PROBATAM.CO, PEKANBARU — Bagi warga kota besar seperti Pekanbaru, uang pecahan dua ribu rupiah mungkin terlihat kecil.
Namun, bagi Nurhasanah (38), seorang ibu rumah tangga di Marpoyan Damai, uang tersebut bermakna besar saat ia tidak lagi harus merogoh kocek setiap kali berhenti di gerai ritel modern.
Kebijakan pembebasan biaya parkir di ritel modern merupakan satu dari sekian banyak langkah taktis yang diambil Wali Kota Agung Nugroho dan Wakil Wali Kota Markarius Anwar (AMAN) dalam setahun masa kepemimpinannya untuk menyentuh langsung denyut nadi kehidupan warga.
Sejak dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada 20 Februari 2025, pasangan AMAN seolah memahami bahwa kepemimpinan bukan hanya soal membangun menara atau aspal, melainkan tentang bagaimana meringankan beban harian masyarakat.
“Pemimpin itu harus hadir di dompet dan di meja makan rakyatnya melalui kebijakan yang memudahkan, bukan menyulitkan,” ujar Agung Nugroho dalam sebuah dialog warga belum lama ini.
Meringankan Beban dari Hal Kecil
Langkah menggratiskan parkir di gerai ritel modern seperti Indomaret dan Alfamart menjadi perbincangan luas.
Kebijakan ini tidak hanya soal nilai nominal, tetapi juga tentang memberikan rasa aman dan nyaman bagi warga dari praktik pungutan yang tidak resmi.
Langkah ini dinilai sebagai terobosan berani yang langsung dirasakan manfaatnya secara luas, sekaligus menjadi pintu masuk bagi penataan parkir digital yang lebih transparan di titik-titik lain.
Sentuhan humanis lainnya terlihat di jalan raya setiap pagi.
Bus Trans Metro Pekanbaru (TMP) kini bukan sekadar moda transportasi umum, melainkan “bus sekolah” massal yang bisa dinikmati pelajar secara gratis.
Dengan tarif nol rupiah bagi pelajar berseragam, pemerintah kota berhasil mengurangi beban biaya transportasi orang tua hingga ratusan ribu rupiah per bulan, sekaligus perlahan mengurai kemacetan akibat penggunaan kendaraan pribadi oleh anak sekolah.
Pendidikan dan Investasi Manusia
Keberpihakan pada masyarakat bawah juga tercermin dalam pengalokasian anggaran pendidikan.
Pemerintah Kota Pekanbaru di bawah duet AMAN telah mengucurkan dana beasiswa sebesar Rp15 miliar.
Program ini tidak hanya menyasar mahasiswa berprestasi, tetapi juga memberikan jaminan bagi mereka yang kurang mampu untuk tetap bermimpi menempuh pendidikan tinggi hingga jenjang S3 (Doktor).
”Anak-anak Pekanbaru tidak boleh putus sekolah hanya karena biaya. Kami ingin membangun peradaban, dan itu dimulai dari bangku sekolah,” tegas Markarius Anwar.
Di saat yang sama, program pencetakan 10.000 penghafal Al-Qur’an (Hafiz) melalui Masjid Paripurna di 83 kelurahan semakin memperkuat ikatan emosional warga dengan pemimpinnya melalui pendekatan spiritualitas yang kental.
Respons dan Harapan
Salah seorang sosiolog dari Universitas Riau, menilai strategi kepemimpinan AMAN sangat berfokus pada populisme yang terukur.
“Mereka mengambil kebijakan yang ‘receh’ di mata birokrat tapi ‘raksasa’ di mata rakyat, seperti parkir gratis dan bus sekolah. Ini adalah cara paling efektif untuk membangun legitimasi emosional di tahun pertama,” analisisnya.
Namun, ia mengingatkan agar pendekatan humanis ini tetap diimbangi dengan penyelesaian masalah struktural seperti pengangguran dan pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
“Menyentuh hati warga adalah awal yang baik, namun menjaga harapan itu tetap hidup hingga akhir masa jabatan adalah tantangan yang jauh lebih besar.”
Setahun telah berlalu sejak pelantikan di Jakarta.
Bagi warga Kota Bertuah, kehadiran Agung-Markarius telah memberikan warna baru: sebuah kepemimpinan yang tidak hanya berbicara melalui angka-angka statistik, tetapi hadir melalui kebijakan-kebijakan kecil yang membuat napas ekonomi keluarga terasa sedikit lebih lega. (*)




Komentar