Beranda / Berita Utama / Tegak Borak Pantun Hadirkan Wajah Baru Sastra Melayu di Kenduri Seni Melayu 2026

Tegak Borak Pantun Hadirkan Wajah Baru Sastra Melayu di Kenduri Seni Melayu 2026

PROBATAM.CO, Batam Tradisi berpantun yang menjadi salah satu warisan budaya Melayu tampil dengan wajah baru pada malam pembukaan Kenduri Seni Melayu (KSM) 2026, Jumat (3/7/2026), di Dataran Engku Putri, Batam Centre. Melalui pertunjukan Tegak Borak Pantun, tiga budayawan Kepulauan Riau, Yoan S. Nugraha, Rendra Setyadiharja, dan Dato’ Zainal Takdir, menghadirkan pertunjukan sastra lisan yang segar, komunikatif, dan menghibur.

Tidak seperti berbalas pantun pada umumnya, Tegak Borak Pantun dikemas dengan konsep yang lebih interaktif. Ketiga pemantun saling melontarkan pantun jenaka, sindiran ringan, hingga petuah yang sarat makna, diselingi dialog spontan yang mengundang tawa para tamu undangan dan masyarakat yang memenuhi arena Kenduri Seni Melayu.

Suasana semakin hidup dengan iringan musik bernuansa modern yang dipadukan dengan irama Melayu, menjadikan pertunjukan terasa akrab bagi berbagai kalangan, termasuk generasi muda. Balutan busana Melayu lengkap dengan tanjak tetap mempertahankan identitas tradisi, meski dikemas dalam format pertunjukan yang lebih kekinian.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan inovasi dalam penyajian pantun menjadi langkah penting agar sastra lisan Melayu tetap diminati di tengah perkembangan zaman.

Gunakan Perahu, Satgas Citarum Sektor 4 Kembali Lakukan Penertiban KJA Di Waduk Saguling

“Pantun merupakan salah satu dari sepuluh Objek Pemajuan Kebudayaan yang harus terus kita lestarikan. Melalui konsep seperti Tegak Borak Pantun, masyarakat dapat menikmati sastra Melayu dengan cara yang lebih dekat, ringan, namun tetap sarat nilai dan pesan budaya,” ujarnya.

Menurut Ardiwinata, Kenduri Seni Melayu tidak hanya menjadi ruang menampilkan seni tradisi, tetapi juga mendorong lahirnya inovasi dalam penyajian budaya agar tetap relevan bagi generasi masa kini.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kota Batam, Samson Rambah Pasir, menilai Tegak Borak Pantun menjadi contoh bagaimana tradisi dapat berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.

“Esensi pantunnya tetap terjaga, tetapi cara penyampaiannya dibuat lebih komunikatif dan menghibur. Dengan pendekatan seperti ini, masyarakat, khususnya anak muda, akan lebih mudah mencintai sastra Melayu,” katanya.

Selain menghibur, setiap bait pantun yang disampaikan juga mengandung pesan tentang adat, budi pekerti, persahabatan, serta kehidupan bermasyarakat yang menjadi bagian dari nilai-nilai budaya Melayu. Respons hangat penonton yang beberapa kali diselingi gelak tawa dan tepuk tangan menunjukkan bahwa tradisi lisan masih memiliki tempat di hati masyarakat ketika dikemas secara kreatif.

Kodam IV/Diponegoro Matangkan Validasi Aset Bersama Tim Itjenad

Penampilan Tegak Borak Pantun menjadi salah satu sajian yang memperkaya malam pembukaan Kenduri Seni Melayu 2026, sekaligus membuktikan bahwa pantun tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga dapat terus hidup, berkembang, dan menginspirasi di tengah kehidupan modern. (*/hel)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement