PROBATAM.CO, Batam – Di tengah kawasan hijau Daerah Tangkapan Air (DTA) Batam Hilir, tepatnya di Kampung Aceh, Kecamatan Sei Beduk, SDN 009 Sei Beduk membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari lingkungan sekolah. Melalui dua program unggulan, AKSATA (Aksi Pengelolaan Sampah) dan KECE IN KEHATI (Kebun Cerdas Cinta Keanekaragaman Hayati), sekolah ini berhasil mengubah sampah menjadi sumber manfaat sekaligus media pendidikan karakter bagi peserta didik.
Berada di kawasan yang dikelilingi pepohonan, SDN 009 Sei Beduk memanfaatkan potensi lingkungan sebagai ruang belajar yang mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Berangkat dari kepedulian terhadap banyaknya sampah organik maupun anorganik yang dihasilkan setiap hari, sekolah menggagas Program AKSATA sebagai solusi pengelolaan sampah berbasis edukasi.

Melalui program tersebut, limbah kulit buah dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diolah menjadi Pupuk Organik Cair (POC) yang dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman di lingkungan sekolah. Sementara itu, daun-daun kering yang sebelumnya hanya dibersihkan kini diolah menjadi pupuk kompos untuk mendukung penghijauan sekolah.
Tidak hanya mengelola sampah organik, peserta didik juga diajarkan mengolah sampah anorganik. Plastik bekas jajanan dipadatkan menjadi ecobrick yang dimanfaatkan sebagai kursi taman, pot tanaman, hingga media pembelajaran kreatif. Adapun botol plastik, kardus, kertas, dan sampah anorganik lainnya dipilah sebelum disetorkan ke Bank Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam sehingga memiliki nilai ekonomi sekaligus mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Program AKSATA tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter peserta didik. Melalui berbagai aktivitas tersebut, siswa dibiasakan untuk bekerja sama, bertanggung jawab, berpikir kreatif, serta memahami bahwa tindakan sederhana yang dilakukan secara bersama-sama dapat memberikan dampak besar bagi lingkungan.
Semangat menjaga lingkungan kemudian diperkuat melalui Program KECE IN KEHATI. Program ini mengajak peserta didik mengenal, menanam, dan merawat berbagai jenis Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai bagian dari upaya pelestarian keanekaragaman hayati.

KECE IN KEHATI dibangun atas empat nilai utama, yakni Energi untuk Kelola Tanaman, yang menumbuhkan semangat merawat tanaman; Empati untuk Tanaman, yang mengajarkan kepedulian terhadap setiap makhluk hidup; Cerdas Mengenal Berbagai Tanaman, yang memperluas pengetahuan peserta didik mengenai manfaat tanaman; serta Energi Full Menjadi Guard Kecil Bumi, yang menanamkan semangat kepada peserta didik untuk menjadi pelindung lingkungan melalui kebiasaan menanam dan merawat tanaman.
Kepala SDN 009 Sei Beduk mengatakan bahwa kedua program tersebut menjadi bukti bahwa sekolah dasar mampu menghadirkan inovasi sederhana yang berdampak nyata bagi lingkungan, pendidikan, dan masyarakat. Menurutnya, perubahan tidak selalu harus dimulai dengan fasilitas yang lengkap maupun anggaran yang besar.
“Setiap sekolah memiliki potensi menjadi agen perubahan. Yang terpenting adalah memanfaatkan potensi yang dimiliki, melibatkan seluruh warga sekolah, dan menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketika peserta didik memahami bahwa kulit buah dapat diolah menjadi pupuk, daun kering mampu menyuburkan tanah, plastik dapat menjadi produk yang bermanfaat, dan tanaman yang mereka rawat memberikan kehidupan, maka pada saat itulah mereka sedang belajar menjadi generasi yang bertanggung jawab terhadap masa depan bumi.
Melalui AKSATA dan KECE IN KEHATI, SDN 009 Sei Beduk berharap dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Kota Batam maupun di berbagai daerah di Indonesia untuk mengembangkan inovasi pengelolaan lingkungan sesuai dengan potensi yang dimiliki masing-masing.
Bagi keluarga besar SDN 009 Sei Beduk, perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil. Mulai dari satu genggam kompos, satu botol pupuk organik cair, satu ecobrick, satu karung sampah yang didaur ulang, hingga satu tanaman TOGA yang dirawat bersama, seluruhnya menjadi bagian dari upaya menanamkan kesadaran bahwa anak-anak hari ini adalah penjaga bumi di masa depan.(lam)





Komentar