PROBATAM.CO, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2026 tidak semata-mata dipicu oleh isu potensi penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Terdapat sejumlah faktor lain yang turut memberikan tekanan terhadap pergerakan pasar saham domestik.
Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Agus Firmansyah, menjelaskan bahwa IHSG sempat mencapai rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) pada 20 Januari 2026. Saat itu, indeks ditutup pada level 9.135.
Akan tetapi, tekanan terhadap pasar saham mulai meningkat setelah MSCI mengumumkan perkembangan prospek evaluasi status pasar saham Indonesia pada 27 Januari 2026. Pengumuman tersebut memunculkan risiko perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
“Pada tanggal 27 Januari MSCI mengumumkan sesuatu terkait prospek review status pasar saham Indonesia yang kemungkinan akan di-downgrade dari emerging market menuju ke frontier, sehingga mulailah terjadi tekanan pada pasar saham kita di IHSG,” ujar Agus dalam workshop pasar modal Indonesia di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (31/10).
Dampak pengumuman tersebut terlihat dari pergerakan IHSG pada periode 27 Januari hingga 6 Februari 2026. Dalam rentang waktu itu, IHSG mengalami koreksi sebesar 11,64 persen. Selain itu, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) saham Indonesia sekitar Rp 13,5 triliun.
Tekanan terhadap pasar saham domestik terus berlanjut hingga penghujung Oktober. Berdasarkan data OJK per 30 Oktober 2026, IHSG telah melemah sekitar 41,5 persen secara year to date (ytd) dan turun 16,7 persen secara month to date (mtd). Pada perdagangan Jumat (30/10), indeks ditutup di posisi 5.057,05.
Meski demikian, Agus menilai terdapat tiga faktor utama yang turut memengaruhi penurunan IHSG sepanjang tahun ini.
Pertama, perkembangan kebijakan suku bunga bank sentral global. Agus menjelaskan, kebijakan moneter negara-negara besar, khususnya Federal Reserve (The Fed), memberikan tekanan terhadap pasar keuangan. Bank sentral Amerika Serikat tersebut mempertahankan suku bunga pada level relatif tinggi dalam periode yang lebih panjang atau dikenal dengan istilah higher for longer.
Bahkan, pada September 2026, The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga kebijakan dari sebelumnya berada di kisaran 3,5-3,75 persen menjadi 3,75-4 persen. Perkembangan tersebut turut memengaruhi pasar saham, nilai tukar rupiah, hingga kondisi perekonomian Indonesia.
“Central Bank dunia, The Fed, mereka mempertahankan suku bunga di level yang cukup tinggi atau istilahnya higher for longer. Bahkan di September kemarin, The Fed mengumumkan kenaikan policy rate-nya mereka, sebelumnya di level 3,5-3,75 terus naik jadi 3,75 sampai dengan 4 persen,” jelasnya.
Kedua, meningkatnya ketegangan geopolitik internasional. Konflik dan ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, serta negara-negara sekutunya turut memperburuk sentimen di pasar keuangan global. Kondisi tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap pergerakan pasar saham Indonesia.
Agus menyebutkan, dinamika geopolitik yang meningkat dalam beberapa periode, termasuk pada Februari dan 7 April 2026, ikut memengaruhi sentimen investor sehingga berdampak terhadap pergerakan IHSG.
Ketiga, isu evaluasi klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI. Pengumuman MSCI pada 27 Januari 2026 mengenai potensi perubahan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market menjadi salah satu pemicu tekanan terhadap pasar saham domestik. Perkembangan tersebut diikuti koreksi IHSG dan aksi jual bersih oleh investor asing.
Agus kembali menegaskan bahwa tekanan terhadap IHSG tidak dapat dikaitkan hanya dengan persoalan MSCI. Kebijakan suku bunga global dan perkembangan geopolitik internasional juga menjadi faktor yang memengaruhi kondisi pasar saham Indonesia sepanjang 2026.
“Jadi MSCI bukan merupakan satu-satunya faktor yang menekan, memberikan tekanan kepada IHSG kita,” lanjut Agus.(lam/kumparan)





Komentar