PROBATAM.CO, Jakarta – Pengamat politik Adi Prayitno memberikan tanggapan mengenai keputusan Presiden Prabowo Subianto mengganti Purbaya Yudhi Sadewa dari posisi Menteri Keuangan.
Menurut Adi, selama menjalankan tugas sebagai Menteri Keuangan, Purbaya memiliki sejumlah catatan yang membuat kinerjanya dinilai berapor merah. Beberapa hal yang menjadi sorotan antara lain kondisi daya beli masyarakat, ketersediaan lapangan pekerjaan, nilai tukar rupiah, serta peningkatan utang negara.
Purbaya dicopot dari jabatan Menteri Keuangan dalam perombakan Kabinet Merah Putih pada Senin (14/9). Jabatan tersebut kemudian diberikan kepada Suahasil Nazara, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan.
Adi mengatakan, alasan substantif di balik pergantian tersebut dapat dilihat melalui sejumlah indikator ekonomi yang menurutnya belum berjalan sesuai harapan.
“Secara rasional, secara substantif alasan Purbaya diganti tentu banyak faktor. Misalnya ada klaim pertumbuhan ekonomi naik secara signifikan atau pertumbuhan ekonomi itu positif, itu kan statement yang disampaikan oleh pemerintah melalui menterinya. Tapi pada saat bersamaan daya beli masyarakat itu semakin menurun,” ujar Adi dalam keterangannya yang dikutip Kamis (17/9).
Ia juga menyoroti persoalan akses masyarakat terhadap pekerjaan, terutama di sektor formal. Adi menilai kondisi tersebut turut menjadi catatan mengingat Menteri Keuangan memiliki tanggung jawab besar terhadap pengelolaan dan kondisi keuangan negara.
“Jadi wajar hal-hal seperti ini menjadi faktor penting bahwa Menteri Keuangan punya tanggung jawab besar dengan situasi keuangan yang ada di negara kita,” katanya.
Rupiah dan Pertumbuhan Ekonomi Ikut Disorot
Selain daya beli serta lapangan pekerjaan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga disebut Adi sebagai salah satu catatan dalam kinerja Purbaya.
Ia menilai penguatan rupiah terhadap dolar AS belum terlihat secara signifikan.
“Itu tentu menjadi catatan yang sifatnya minus,” tegas Adi.
Adi juga menyinggung kembali pernyataan Purbaya sebelum menjabat Menteri Keuangan yang kala itu dinilai menunjukkan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Purbaya yang dalam banyak hal kalau dulu kita dengarkan pidato politiknya, ceramah politiknya, penuh dengan optimisme. Dia sebut gampanglah kalau sekadar pertumbuhan ekonomi di Indonesia 6 persen di depan mata, 7 persen itu tinggal menghitung waktu dan seterusnya,” tuturnya.
Menurut Adi, optimisme tersebut dinilai belum sepenuhnya terealisasi selama Purbaya menduduki posisi Menteri Keuangan.
Pertambahan Utang dan Program MBG Jadi Sorotan
Persoalan lain yang turut menjadi perhatian Adi adalah peningkatan utang negara. Ia juga menyoroti sejumlah persoalan dalam pelaksanaan program strategis pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Utang kita terus bertambah dan program strategis misalnya MBG itu yang justru telah melahirkan sejumlah praktik korupsi,” ujar Adi.
Ia menilai berbagai persoalan tersebut menjadi catatan kritis terhadap kinerja Purbaya selama menjabat sebagai Menteri Keuangan.
“Dan itulah yang kemudian menjadi catatan-catatan kritis kenapa kinerja Menteri Keuangan itu dinilai punya rapor merah dan sangat layak untuk diganti dengan yang baru, yaitu Suahasil Nazara,” pungkasnya.
Di sisi lain, Adi menilai pergantian Purbaya juga tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik di lingkungan pemerintahan. Meski demikian, menurutnya, faktor kinerja tetap menjadi salah satu alasan yang dapat dilihat secara substantif.(lam/kumparan)





Komentar