PROBATAM.CO, Batam – Malam penutupan Kenduri Seni Melayu (KSM) 2026, Minggu (5/7/2026), di Dataran Engku Putri, Batam Centre, tidak hanya menghadirkan pertunjukan tari dan musik tradisional, tetapi juga menjadi ruang apresiasi bagi sastra Melayu melalui penampilan penyair asal Tanjungpinang, Hoesnizar Hood.
Di hadapan ratusan penonton, Hoesnizar membacakan puisi Kepada Cilla dan Batam yang Miang, dengan gaya khas yang tenang namun penuh penghayatan. Mengenakan kemeja putih, syal kuning, serta topi khas yang menjadi identitasnya, ia menyampaikan setiap bait puisi dengan intonasi yang kuat, menghidupkan suasana malam penutupan Kenduri Seni Melayu.
Latar panggung yang didukung visual LED bertema budaya Melayu semakin memperkuat nuansa puitis dalam penampilannya. Sesekali sorotan kamera menampilkan ekspresi sang penyair secara langsung di layar utama, membuat penonton larut menikmati setiap larik puisi yang dibacakan.
Hoesnizar Hood merupakan salah satu tokoh sastra dan seni terkemuka dari Kepulauan Riau. Lahir pada 11 Desember 1967, ia telah melahirkan berbagai karya sastra, di antaranya Kalau Tiga Racik Sajak, Tarian Orang Lagoi, hingga novel Mahmud Jadi Dua. Dedikasinya dalam dunia sastra mengantarkannya menerima Anugerah Sagang sebagai Seniman Serantau pada 2004 serta Anugerah Jembia Emas pada 2016.
Selain aktif berkarya sebagai penyair dan budayawan, Hoesnizar juga pernah mengemban amanah sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Riau, namun tetap konsisten berkiprah dalam pelestarian seni dan budaya Melayu melalui berbagai kegiatan kebudayaan di kawasan Melayu.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan kehadiran Hoesnizar Hood menjadi salah satu penguat dimensi sastra dalam Kenduri Seni Melayu yang selama ini tidak hanya menampilkan tari dan musik, tetapi juga memberi ruang bagi para penyair Melayu.
“Kenduri Seni Melayu adalah panggung bersama bagi seluruh cabang seni. Kehadiran Hoesnizar Hood menunjukkan bahwa sastra memiliki peran penting dalam merawat nilai-nilai budaya Melayu. Melalui puisi, pesan-pesan kehidupan, adat, dan jati diri Melayu dapat disampaikan dengan cara yang indah dan menyentuh,” ujar Ardiwinata.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kota Batam, Samson Rambah Pasir, menilai pembacaan puisi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan Kenduri Seni Melayu sejak pertama kali digelar.
“Karya-karya para penyair adalah rekaman batin masyarakat Melayu. Kehadiran Hoesnizar Hood bersama para penyair serumpun pada malam penutupan memperlihatkan bahwa sastra tetap memiliki tempat istimewa dalam ekosistem kebudayaan Melayu,” katanya.
Penampilan Hoesnizar Hood melengkapi rangkaian pembacaan puisi para penyair Melayu serumpun pada malam penutupan Kenduri Seni Melayu 2026. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa sastra bukan sekadar rangkaian kata, melainkan warisan budaya yang terus hidup dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Melayu lintas generasi. (*/hel)





Komentar