PROBATAM.CO, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menduga Singapura tidak sepenuhnya menggunakan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) yang diimpor dari Indonesia untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Ia memperkirakan sebagian komoditas tersebut justru diperdagangkan kembali ke negara lain.
Dugaan itu disampaikan Bahlil menyusul keputusan pemerintah untuk mengurangi ekspor gas pipa ke Singapura sebesar 31 BBTUD sejak akhir pekan lalu. Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah untuk mengutamakan pemenuhan kebutuhan energi di dalam negeri.
Bahlil menegaskan, kepentingan domestik menjadi prioritas pemerintah dalam pengelolaan sumber daya gas nasional. Meski demikian, ekspor tetap akan dilakukan apabila ketersediaan pasokan dalam negeri telah mencukupi.
Selama ini, Indonesia menyalurkan gas pipa ke Singapura sebesar 409,55 juta British Thermal Unit per hari (BBTUD) dari wilayah Natuna dan Sumatra. Selain pasokan gas pipa, Indonesia juga mengirimkan LNG sebanyak 148 kargo atau setara dengan 1.480 MMSCFD setiap tahunnya.
Menurut Bahlil, tidak semua LNG yang dikirimkan tersebut digunakan untuk konsumsi Singapura. Ia meyakini sebagian pasokan berpotensi dimanfaatkan sebagai komoditas perdagangan untuk kemudian diekspor kembali ke negara lain.
Pemerintah juga memastikan pengurangan ekspor gas pipa sebesar 31 BBTUD atau sekitar 8 persen dari total penyaluran 409,55 BBTUD tidak melanggar kesepakatan bilateral. Pasalnya, volume pengiriman yang tersisa masih berada di atas batas minimum penyaluran sebagaimana diatur dalam kontrak kedua negara.
Di tengah kebijakan tersebut, Bahlil turut menyoroti penurunan produksi di sejumlah sumur minyak dan gas bumi (migas) nasional. Saat ini, beberapa sumur yang mengalami penurunan produksi masih dalam proses perbaikan untuk memulihkan kapasitas produksinya.
Pemerintah, lanjut Bahlil, terus mengupayakan pemulihan produksi agar target lifting migas nasional pada tahun ini dapat tercapai secara optimal. Pernyataan tersebut disampaikannya setelah menghadiri Forum Komunikasi Hulu Migas 2026 pada Rabu (28/10).
Berdasarkan data Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per 31 Agustus 2026, realisasi lifting minyak nasional tercatat sebesar 575,6 ribu barel minyak per hari (bopd). Angka tersebut masih berada di bawah target APBN sebesar 610 ribu bopd.
Sementara itu, realisasi lifting gas bumi mencapai 926,8 ribu barel setara minyak per hari (boepd), lebih rendah dibandingkan target yang ditetapkan sebesar 984 ribu boepd.
(Lam/kumparan)





Komentar