Beranda / Nasional / Tak Boleh Sembarangan, 8 Obat Ini Punya Risiko Anemia Aplastik

Tak Boleh Sembarangan, 8 Obat Ini Punya Risiko Anemia Aplastik

Ilustrasi obat (Foto: detikcom)

PROBATAM.CO, JAKARTA – Anemia aplastik belakangan disorot pasca Komika Babe Cabita meninggal dunia dengan riwayat penyakit tersebut. Kondisi ini menunjukkan seseorang mengalami jenis kelainan darah yang memicu terjadinya kegagalan sumsum tulang untuk menghasilkan sel darah.

Artinya, sumsum tulang tidak mampu lagi memproduksi salah satu atau seluruh sel darah, termasuk sel darah merah, sel darah putih, kondisi ini terbilang langka dan serius. Pemicu anemia aplastik bisa dilatarbelakangi beragam faktor, salah satunya penggunaan obat dalam jangka waktu panjang atau kronis.

Menurut Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada Prof Zullies Ikawati, sebetulnya keterkaitan keduanya terbilang sangat jarang terjadi. Namun, bila seseorang mengonsumsi obat dalam jangka waktu lama, sebaiknya ada tujuh jenis obat yang perlu diwaspadai seperti berikut:

Obat Chloramphenicol

Antibiotik ini pernah umum digunakan, tetapi penggunaannya sekarang dibatasi karena risiko serius termasuk anemia aplastik.

Volume Peti Kemas Tumbuh, Jumlah Penumpang Melonjak, BP Batam Buka 2026 dengan Kinerja Optimis

NSAID (Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drugs)

Obat-obatan anti-inflamasi nonsteroid, seperti indomethacin dan fenylbutazon, bisa berisiko menimbulkan anemia aplastik, meskipun kasusnya jarang.

Sulfonamides

Kelompok antibiotik ini, termasuk sulfasalazine dan trimethoprim-sulfamethoxazole, juga telah dikaitkan dengan anemia aplastik.

Antikonvulsan

Tim Terpadu Kota Batam Tertibkan Bangunan Ilegal di Kurahan Sei Binti

Beberapa obat yang digunakan untuk mengobati epilepsi, seperti carbamazepine dan phenytoin, bisa menyebabkan anemia aplastik.

Obat tiroid

Seperti propylthiouracil dan methimazole yang digunakan untuk mengobati hipertiroidisme.

Obat sitotoksik dan kemoterapi

Obat-obatan yang digunakan dalam kemoterapi, seperti cyclophosphamide dan chlorambucil, memiliki risiko yang lebih tinggi menyebabkan anemia aplastik.

Menaker: Serikat Pekerja Bukan Lawan Perusahaan, tapi Penjaga Hak Pekerja

Obat antiretroviral

Dalam beberapa kasus, obat-obatan yang digunakan untuk mengobati HIV/AIDS telah dilaporkan menyebabkan anemia aplastik.

Obat lain

Obat lain yang kurang umum tapi berpotensi menyebabkan anemia aplastik adalah gold compounds, yang digunakan dalam pengobatan artritis reumatoid, dan obat antiplatelet seperti ticlopidine.

” Tetapi sekali lagi, kejadian anemia aplastik akibat obat ini kejadiannya termasuk jarang. Pengawasan obat pasca pemasaran di Indonesia belum menjumpai laporan kejadian anemia aplastik akibat obat,” tegasnya.

Bila mengalami keluhan yang tak kunjung membaik meski telah meminum obat, Prof Zullies menyarankan untuk segera melakukan konsultasi lebih lanjut dengan profesional.(*/Del)









sumber: detikcom

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement