PROBATAM.CO, Batam – Langkah Adhya Tirta Batam (ATB) memutuskan akan melakukan rationing (mengontrol distribusi air) sebagai langkah menghemat air di Kota Batam membuat Masyarakat Kota Batam terpaksa harus menampung persediaan air guna kehidupan sehari-hari.
Dari data yang dirilis oleh pihak ATB, Per tanggal 5 Maret 2020, penyusutan volume air baku di Waduk Duriangkang telah mencapai minus 3,06 meter dari permukaan bangunan pelimpah. Pemerintah (BP Batam) memutuskan untuk melakukan penggiliran (Rationing) di waduk Duriangkang. Pemeliharaan waduk dan hutan tangkapan air menjadi tanggung jawab dari BP Batam.

Daerah yang akan terdampak penggiliran meliputi Tanjungpiayu, Mukakuning, Sagulung, Batuaji, Tanjunguncang, Marina, Batam Centre, Nagoya, Jodoh, Pelita, Sungai panas, Bengkong, Batuampar, Sengkuang, Kabil, Punggur dan sekitarnya.
Pelanggan akan mengalami pemulihan suplai setelah Instalasi Pengolahan Air (IPA) kembali beroperasi. Menurut estimasi, sebagian pelanggan akan kembali mendapatkan suplai dalam 12 hingga 24 jam, 25 hingga 48 jam atau diatas 48 jam.
Salah seorang warga Sagulung, Kavling Sei Lekop, Sakdiah mengatakan semenjak terjadi penggiliran air tersebut dirinya mengaku harus bergadang untuk menampung air, bahkan terkadang air sama sekali tidak hidup di tempatnya.
“Udah 10 hari ini kayak gini, gak ada penggiliran kayak gini juga disini susah air, apalagi kalau ada penggiliran mati ini, makin susah lah kami,” ujarnya, Kamis(12/03/2020).
Ia menyebut, setiap malam dirinya harus bangun tengah malam hingga menjelang subuh, pasalnya terkadang air tidak hidup dan aliran air kecil. (Zel)




Komentar