PROBATAM.CO, Kabupaten Bandung – KWARTIR Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Bandung menggelar kegiatan Penguatan Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara bagi Pramuka Penegak dan Pandega di Aula Kwarcab, Jalan RAA. Wiranatakusumah No. 19 Baleendah, Kamis 16 Juli 2016.
Kegiatan yang diikuti sekitar 100 Pramuka Penegak dan Pandega dari seluruh Kwartir Ranting se-Kabupaten Bandung tersebut menjadi bagian dari upaya membentuk generasi muda yang memiliki karakter kebangsaan, cinta tanah air, serta mampu menghadapi tantangan perkembangan teknologi dan globalisasi.
Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Ketua Kwarcab Kabupaten Bandung Bidang Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara, Drs. H. Ruli Hadiana, S.Sos., M.I.Pol., Kepala Bidang Organisasi Kepemudaan Dispora, Drs. H. Moch. Iwan Djajakusumah, M.Si., Sekretaris II Kwarcab Kabupaten Bandung Tatan Munandar, S.Pd., M.M., para Andalan Cabang Bidang Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara, serta narasumber Wachyu Mulyadi, S.Pd. dan Dodi Wibisana, M.M.
Dalam laporannya, Ketua Pelaksana Ading Sunjaya, S.Pd.I., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wadah silaturahmi sekaligus pembinaan bagi Pramuka Penegak dan Pandega untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, keterampilan, kepemimpinan, dan karakter sebagai calon pemimpin bangsa.
“Melalui kegiatan ini diharapkan lahir kader-kader penerus bangsa yang menjunjung tinggi nilai Satya dan Darma Pramuka, memiliki jiwa patriotisme, cinta tanah air, serta semangat bela negara,” ujarnya.
Bela Negara Dimulai dari Karakter dan Kepedulian
Dalam sambutannya, Kak Ruli menegaskan bahwa wawasan kebangsaan dan bela negara merupakan ruh yang tidak dapat dipisahkan dari Gerakan Pramuka.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut telah tertanam dalam Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka sehingga harus terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
“Bela negara tidak selalu diwujudkan dengan mengangkat senjata di medan perang. Bagi generasi muda, bela negara diwujudkan melalui pembentukan karakter, peningkatan kompetensi, menjaga persatuan, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” ungkapnya.
Kak Ruli yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung, mengajak seluruh anggota Pramuka untuk menjadi pelopor kepedulian lingkungan melalui gerakan pengelolaan sampah dari sumbernya, salah satunya dengan mendukung program LU SABAR (Lubang Sampah Barokah) sebagai bentuk nyata bela negara di bidang lingkungan hidup.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya kemampuan generasi muda dalam menyaring informasi di era digital agar tidak mudah terpengaruh berita bohong (hoaks), ujaran kebencian maupun provokasi yang berpotensi memecah persatuan bangsa.
Nasionalisme Harus Hidup di Ruang Digital
Pada sesi materi pertama, Wachyu Mulyadi, S.Pd. menyampaikan materi bertajuk “Penyelarasan Nilai-Nilai Dasar Nasionalisme dengan Arus Digitalisasi dan Globalisasi.” Ia menekankan bahwa Pancasila tetap relevan sebagai pedoman hidup generasi muda.
Namun implementasinya kini harus terlihat dalam perilaku di ruang digital, seperti membangun toleransi, menghargai perbedaan, dan menjaga etika bermedia sosial.
Wachyu menjelaskan bahwa berbagai tantangan seperti penyebaran hoaks, judi online, cyberbullying, ujaran kebencian, hingga polarisasi berbasis SARA merupakan praktik digital yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan harus menjadi perhatian generasi muda.
Melalui pemahaman terhadap lima sila Pancasila, peserta diajak melihat berbagai contoh persoalan nyata di media sosial, mulai dari penyebaran konten provokatif, perundungan siber, disinformasi, budaya cancel culture, hingga praktik judi online yang semakin menyasar kalangan remaja.
Ia menegaskan bahwa nasionalisme di era modern diwujudkan dengan menjadikan Pancasila sebagai pedoman etika dalam bermedia sosial, menumbuhkan cinta tanah air melalui tindakan nyata, serta menjaga persatuan berdasarkan empat konsensus kebangsaan, yakni Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.
Tiga Modal Utama Generasi Muda Unggul
Materi berikutnya disampaikan oleh Dodi Wibisana, M.M. dengan tema “Tiga Modal Utama Generasi Muda Unggul.”
Dalam paparannya, Dodi menjelaskan bahwa dari perspektif pengembangan sumber daya manusia, generasi muda yang mampu menghadapi tantangan zaman harus memiliki tiga modal utama, yaitu karakter, kompetensi, dan komitmen kebangsaan.
Ketiga modal tersebut menurutnya telah tercermin dalam nilai-nilai Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka.
Ia menjelaskan bahwa karakter dibangun melalui integritas, disiplin, kepedulian sosial, dan tanggung jawab; kompetensi diwujudkan melalui literasi digital, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kecakapan kepramukaan, serta kreativitas.
Sedangkan komitmen kebangsaan diwujudkan melalui kesetiaan terhadap Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi menjaga persatuan bangsa.
Dodi juga mengajak peserta untuk lebih bijak menghadapi tantangan era digital seperti hoaks, radikalisme digital, penyalahgunaan narkoba, tawuran, perjudian daring, serta budaya negatif lainnya yang dapat mengikis karakter, kompetensi, dan komitmen kebangsaan generasi muda. Pb/Rie





Komentar