Beranda / Gaya Hidup / Kenali Beda Henti Jantung dan Serangan Jantung

Kenali Beda Henti Jantung dan Serangan Jantung

Ilustrasi. Meski saling terkait satu sama lain, namun henti jantung dan serangan jantung merupakan dua kondisi yang berbeda. (Photo: iStockphoto/magicmine)

PROBATAM.CO, Jakarta – Secara sepintas orang akan menyamakan istilah henti jantung mendadak dengan serangan jantung. Padahal keduanya adalah kondisi medis yang berbeda. Kenali beda henti jantung dan serangan jantung.

Mengutip situs resmi American Heart Association, perbedaan utama antara keduanya terlihat dari letak masalah pemicu. Serangan jantung merupakan masalah sirkulasi darah, sedangkan henti jantung–sebagaimana yang dialami mendiang Didi Kempot–merupakan masalah gangguan listrik pada jantung.

Meski berbeda, namun kedua kondisi jantung ini saling terkait satu sama lain. Serangan jantung dapat meningkatkan risiko henti jantung mendadak. Pada beberapa kasus, risiko henti jantung meningkat setelah seseorang mengalami serangan jantung sebelumnya. Enam bulan pertama setelah serangan jantung menjadi masa rentan henti jantung.

Untuk mengetahui lebih jelas, berikut beda henti jantung dan serangan jantung.

Penyebab

Kepergian Sosok H. Zulmansyah Sekedang, Dunia Pers Kehilangan Seorang Terbaik

Serangan jantung disebabkan oleh penyumbatan aliran darah menuju jantung. Penyumbatan mengakibatkan jantung tak bekerja maksimal.

Henti jantung mendadak merupakan kondisi saat jantung secara tiba-tiba berhenti berdetak tanpa peringatan. Kondisi ini dipicu oleh kerusakan listrik pada jantung yang menimbulkan aritmia. Nama terakhir merupakan gangguan irama jantung yang menyebabkan aliran darah ke jantung terhenti.

Kerusakan listrik membuat jantung tak dapat memompa darah ke otak dan organ-organ tubuh lainnya sehingga menimbulkan kerusakan total. Kondisi ini dapat membuat seseorang kehilangan kesadaran hingga denyut nadi yang tak berdetak.

Selain itu, henti jantung juga dapat disebabkan oleh penebalan otot jantung (kardiomiopati), gagal jantung, kebiasaan konsumsi beberapa jenis obat-obatan, dan kelainan pembuluh darah.

Dalam beberapa kasus, serangan jantung meningkatkan risiko henti jantung. Enam bulan pertama setelah serangan jantung menjadi masa rentan bagi seseorang untuk mengalami henti jantung.

Keluarga Besar PWI dan SMSI Berduka: Sekjen PWI Pusat H. Zulmansyah Sekedang Tutup Usia

Gejala

Gejala serangan jantung umumnya muncul secara intens. Sering kali gejala mulai datang perlahan dan kian parah selama beberapa waktu.

Beberapa gejala tersebut di antaranya palpitasi (jantung berdebar-debar), nyeri dada sebelah kiri, sesak napas, mual dan muntah, keringat dingin, serta perasaan mudah lelah.

llustrasi. Perbedaan henti jantung dan serangan jantung terlihat pada letak masalah pemicunya. (Photo: Istockphoto/stevanovicigor)

Sementara henti jantung umumnya terjadi secara mendadak dan tak ditandai dengan beberapa gejala awal. Henti jantung biasa disertai dengan denyut nadi yang hilang, tak bernapas, dan hilang kesadaran.

Dalam beberapa kasus, henti jantung ditandai oleh beberapa gejala awal seperti rasa tidak nyaman pada dada, kesulitan bernapas, rasa lemas, dan palpitasi.

Trump Klaim AS Akan Dapat “Debu Nuklir” Iran Tanpa Biaya

Penanganan

Segera cari pertolongan medis saat seseorang mengalami serangan jantung.

Hal yang sama juga bisa dilakukan saat seseorang mengalami henti jantung mendadak. Lengkapi penanganan dengan melakukan metode hands-only CPR atau kompresi dada. Kompresi dada dapat membantu meningkatkan kemungkinan keselamatan pasien henti jantung mendadak.

Meski memiliki saling berbeda, namun kondisi henti jantung mendadak dan serangan jantung sama-sama merupakan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat. (*)

Sumber: Cnn Indonesia

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement