PROBATAM.CO, Jakarta – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin pekat menyelimuti Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada Sabtu (24/10) pagi. Asap yang tampak menguning tersebut menyebabkan jarak pandang menurun hingga sekitar 50–100 meter.
Berdasarkan pantauan di Jalan RTA Milono sekitar pukul 10.00 WIB, kabut asap tebal menghalangi pandangan hingga sinar matahari tidak terlihat. Kondisi ini membuat pengendara harus lebih berhati-hati dan menyalakan lampu kendaraan saat melintas.
Seorang warga bernama Udin mengungkapkan bahwa kabut asap yang berlangsung selama empat bulan terakhir telah mengganggu kesehatan sekaligus aktivitas ekonomi masyarakat.
Menurut Udin, paparan asap menyebabkan sejumlah keluhan, seperti mata perih, sakit kepala, dan sesak dada. Kondisi tersebut juga berdampak pada penghasilannya sebagai nelayan yang sehari-hari mencari ikan di sungai.
Ia menjelaskan, jarak pandang di perairan bahkan lebih terbatas dibandingkan di daratan. Saat kabut asap semakin tebal, pandangan di sungai diperkirakan hanya mencapai lima meter sehingga menyulitkan aktivitas mencari ikan.
Sementara itu, berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tjilik Riwut Palangka Raya, kualitas udara di wilayah tersebut telah masuk kategori berbahaya.
Meski kabut asap telah berlangsung lebih dari empat bulan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah belum menetapkan status bencana nasional atas kondisi tersebut.
Sebelumnya, sejumlah organisasi masyarakat dan mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Gubernur Kalimantan Tengah serta DPRD. Mereka mendesak agar pemerintah menetapkan bencana kabut asap yang melanda wilayah tersebut sebagai bencana nasional.
Warga berharap persoalan kabut asap segera teratasi sehingga kualitas udara membaik dan aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan ekonomi, dapat kembali berjalan normal.(lam/kumparan)





Komentar