PROBATAM.CO, Bandung – KOSASIH kecil lahir dari pasangan Ust. H. Jufran Efendi dengan Hj. Siti Khadijah di Kampung Adukacang, Desa Rocek, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang pada tanggal 2 April 1971.
Nama Kosasih sendiri diberikan kedua orang tua nya, setelah terinspirasi dengan nama Pangdam Siliwangi Periode 1958-1960 yakni R.A. Kosasih.
Dimasa kecilnya, Kosasih yang merupakan anak ke 4 dari 6 bersaudara tumbuh dan berkembang layaknya anak-anak di desa. Dirinya seringkali berenang disungai, main petak umpet bahkan mengumpulkan pasir untuk dijual.
Saat kelas V SD, Kosasih pindah ke Jakarta mengikuti kedua orang tua nya dan melanjutkan sekolah sampai dengan SMA.
Di saat sekolah SMP sampai SMA, dirinya menjadi Marbot (Penjaga Mesjid), setiap hari bertugas membuka, membersihkan serta menutup mesjid saat malam tiba.
Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Kosasih bekerja sebagai penjaga toko menjadi kuli panggul sambil berjualan es Mambo dan TTS demi membantu ekonomi kedua orang tuanya.
Tiba saatnya ketika Kosasih menyelesaikan pendidikan SMA, dengan diam diam dirinya daftar TNI, semua persyaratan disiapkan tanpa pemberitahuan kepada orang tua.
Setelah mengetahui bahwa dirinya lulus dan diterima di Akademi Militer, kejujuran baru disampaikan kepada orang tuanya.
Akhirnya restu kedua orang tua pun turun kepada Kosasih untuk mengikuti seleksi tingkat pusat di Magelang, dirinya diterima dan lulus Akmil pada tahun 1993.
Kariernya dan pengabdiannya diawali dari Operasi Timor Timur, Ekspedisi NKRI, hingga pengawalan VVIP di lebih dari 20 negara.
Pendidikan Militernya paripurna, dari Seskoad, Lemhanas RI, ditambah keahlian spesialis seperti Komando, Sniper hingga Kontra Terorisme.
Sederet karier dan jabatan yang pernah diemban, sebagai Sesmilpres di Istana Kepresidenan (2001-2007), Danrem 062/Tarumanegara, Karo Kepegawaian Setjen Kemhan, hingga Staf Ahli Menteri Pertahanan, hingga pada tanggal 31 Juli 2025, dirinya dipercaya menempati jabatan sebagai Pangdam III/Siliwangi mengikuti jejak sang inspirator.
Dengan Pangkat Mayor Jenderal, ditanah Siliwangi Mayjen TNI Kosasih menemukan panggung yang sempurna, kombinasi ketegasan militer, kecerdasan intelektual, dan religius kental Banten, menjadikannya tidak hanya seorang Komandan, tapi juga Sorang panutan.
Julukan “Jenderal Santri” melekat bukan sebagai pencitraan, melainkan laku hidup. Ia memimpin dengan falsafah Sunda silih asah, silih asuh dan silih asih.
Gaya kepemimpinannya tidak berjarak, tegas tapi santun dan gemar mendengar, kedekatannya dengan para alim ulama, tokoh masyarakat hingga budayawan menjadi jembatan harmoni antara TNI dan masyarakat.
“Jabatanku adalah Ibadahku” itulah motto dari sebuah prinsip yang didasari hadist Nabi, bahwa sebaik baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.
Bagi Mayjen TNI Kosasih, keimanan bukan sekadar simbol, melainkan etika kerja. Sosok ini membuktikan bahwa di era modern, ketegasan militer bisa dan harus berjalan beriringan dengan kesejukan moral dan spiritual.
Kini, dari tanah Siliwangi, Mayjen TNI Kosasih meneruskan jejak pengabdian, mengayomi, melindungi, dan menjadi berkah bagi negeri. (Pb/rie)




Komentar