PROBATAM.CO, Batam – Pertumbuhan industri dan investasi di Batam dinilai perlu diimbangi dengan pembenahan drainase, pengelolaan sampah, dan layanan air bersih. Tanpa perencanaan yang memperhitungkan kebutuhan penduduk serta daya dukung lingkungan, pertumbuhan ekonomi berisiko tidak berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Mantan anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau, Sirajudin Nur, menyampaikan pandangan tersebut dalam Podcast Ruang Bicara yang dipandu Sri Widayanti, Kamis (8/10/2026). Ia menilai pembangunan Batam tidak cukup diukur dari bertambahnya investasi dan aktivitas industri, tetapi juga dari kemampuan kota memenuhi kebutuhan dasar warganya.
“Tidak boleh juga mengorbankan kehidupan masyarakat,” ujar Sirajudin.
Menurut dia, pertumbuhan penduduk dan investasi harus menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan pembangunan. Keduanya membuka peluang ekonomi dan lapangan kerja, tetapi sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap infrastruktur, air bersih, pengelolaan sampah, dan lingkungan yang layak.
Dalam persoalan banjir, Sirajudin menyoroti pentingnya menyesuaikan kapasitas drainase dengan perkembangan kawasan perkotaan. Pembangunan jalan dan bertambahnya permukaan tanah yang tertutup beton maupun aspal, menurut dia, perlu diimbangi dengan perlindungan kawasan resapan air.
Ia mengingatkan bahwa air hujan membutuhkan ruang untuk meresap ke dalam tanah atau dialirkan melalui saluran yang memadai. Jika kemampuan tanah menyerap air berkurang sementara drainase tidak mampu menampung limpasan, risiko genangan perlu diantisipasi melalui perencanaan yang tepat.
“Air ini kan harus setelah turun dari langit itu kan dia harus punya tempat pulang,” katanya.
Sirajudin mendorong evaluasi sistem drainase dan perlindungan kawasan resapan sebagai bagian dari penanganan banjir. Namun, penentuan penyebab banjir di setiap lokasi tetap memerlukan pemeriksaan kondisi saluran, perubahan tutupan lahan, dan data teknis terkait.
Persoalan sampah juga menjadi sorotannya. Ia menilai pembenahan tidak harus selalu dimulai dengan teknologi pengolahan yang rumit. Pemerintah perlu memastikan tempat penampungan sementara tersedia sesuai kebutuhan, pengangkutan berjalan teratur, dan pemilahan sampah dilakukan sejak tingkat rumah tangga.
Menurut Sirajudin, kebiasaan membuang sampah sembarangan tidak bisa dilepaskan dari kesadaran masyarakat maupun ketersediaan fasilitas pembuangan yang mudah dijangkau.
“Kenapa orang buang sampah sembarangan? Satu kesadaran. Yang kedua memang tidak ada tempat untuk buang sampah,” ujarnya.
Ia berpandangan, pemilahan sampah di tempat penampungan sementara dapat membantu mengurangi beban tempat pemrosesan akhir sekaligus membuka peluang pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai ekonomi. Upaya tersebut, menurut dia, perlu ditopang fasilitas dan sistem pengangkutan yang memadai.
Di sektor air bersih, Sirajudin meminta persoalan pelayanan ditelusuri berdasarkan penyebabnya. Gangguan pasokan, menurut dia, perlu dibedakan antara keterbatasan kapasitas air dan masalah distribusi. Keduanya membutuhkan langkah penanganan yang berbeda.
Jika kapasitas tidak mencukupi, peningkatan kemampuan penyediaan air perlu dipertimbangkan. Namun, jika masalah berada pada distribusi, kondisi jaringan pipa dan koordinasi pekerjaan infrastruktur di bawah tanah perlu dievaluasi. Kerusakan pipa akibat pekerjaan jaringan lain juga menjadi risiko yang, menurut dia, perlu diantisipasi melalui pemetaan dan koordinasi antarpengelola.
Kebutuhan rumah tangga dan industri, lanjut Sirajudin, sama-sama perlu diperhitungkan dalam perencanaan layanan air. Pertumbuhan kawasan industri tidak semestinya membuat kebutuhan dasar penduduk terabaikan.
Bagi Sirajudin, langkah awal untuk membenahi persoalan tersebut adalah memahami akar masalah sebelum menentukan kebijakan. Penanganan banjir, sampah, dan air bersih, menurut dia, tidak bisa menggunakan pendekatan seragam tanpa mempertimbangkan kondisi di lapangan.
“Pahami betul-betul masalahnya. Kalau tidak paham masalah, kita tidak akan bisa temukan solusi yang tepat,” ujarnya.
Ia berharap pembangunan Batam berjalan seiring dengan peningkatan pelayanan publik dan pelestarian lingkungan. Masyarakat juga didorong menjaga kebersihan serta menyampaikan aspirasi melalui saluran yang tersedia ketika menemukan persoalan pelayanan.
Batam, menurut dia, bukan semata kawasan industri dan investasi, melainkan juga ruang hidup bagi masyarakat yang bekerja, membangun keluarga, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, keberhasilan pembangunan perlu dilihat tidak hanya dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas lingkungan dan pelayanan dasar.
Pandangan tersebut menjadi catatan mengenai pentingnya keseimbangan antara investasi, pembangunan infrastruktur, dan kebutuhan warga. Adapun penyebab teknis banjir maupun gangguan distribusi air di lokasi tertentu tetap memerlukan verifikasi data serta penjelasan dari instansi yang berwenang. (*)
Editor: IW





Komentar