PROBATAM.CO, Batam- PAGI meredup tanpa warna, langit kehilangan birunya, mentari bersembunyi di balik kelabu, sementara rimba meregang nyawa dalam jilatan api yang tak kenal iba.
Wahai, tuan pemilik api, betapa mudah tanganmu membakar bumi, demi pundi-pundi yang tak pernah sepi, sedang kami di sini tertatih menghirup sisa kehidupan sendiri.
Anak-anak kehilangan udara, orang tua bertarung dengan sesak di dada, dan burung-burung pulang tanpa sarang. Siapa yang sudi mendengar tangis mereka, bila hati manusia telah kalah oleh kerakusan yang tak berkesudahan?
Kalian memetik untung dari rimba yang tumbang, kami menuai perih dari asap yang datang. Kalian menghitung laba, kami menghitung napas yang tersisa.
Ah, betapa pilu negeri ini, ketika langit yang dahulu memayungi kini menjadi selimut kelabu, dan udara yang seharusnya menghidupi perlahan merampas napas dari tubuh kami.
Ingatlah, wahai tangan-tangan yang membakar, abu mungkin diterbangkan angin, namun luka bumi tak mudah mengering. Dan bila kelak biru tak lagi pulang ke langit, anak cucu kita akan mewarisi sesak, kehilangan, dan sesal yang tak bertepi. (*/hel)
#Ning
Batam, Jumat 16102026





Komentar