PROBATAM.CO, Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diduga menjadi salah satu penyebab seekor orangutan dewasa keluar dari habitatnya dan mencari makanan di sekitar Jalan Poros Sangatta-Rantau Pulung, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Satwa yang dilindungi tersebut terlihat mondar-mandir di kawasan vegetasi di tepi jalan sambil memanfaatkan tanaman yang masih tersedia sebagai sumber makanan.
Kemunculan orangutan di dekat jalan raya menarik perhatian pengendara dan warga. Kondisi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran karena jalan tersebut cukup ramai dilalui kendaraan. Salah seorang warga, Jufriadi, berharap pihak berwenang segera mengambil tindakan karena keberadaan orangutan terlalu lama di pinggir jalan dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan satwa.
Menurut Jufriadi, kondisi habitat di sekitar lokasi juga perlu mendapat perhatian. Kebakaran hutan dapat menyebabkan vegetasi yang menjadi sumber makanan satwa liar berkurang. Selain risiko tertabrak kendaraan, kemunculan orangutan di tepi jalan juga menimbulkan dugaan bahwa satwa tersebut kesulitan memperoleh makanan di habitat alaminya.
Ketika vegetasi terbakar atau sumber pakan berkurang, orangutan dapat bergerak lebih jauh untuk mencari makanan. Meski demikian, penyebab pasti satwa tersebut keluar hingga ke tepi jalan masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan dari petugas konservasi.
Lokasi kemunculan orangutan juga berada di sekitar aktivitas pertambangan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebakaran dan aktivitas manusia dapat memberikan tekanan terhadap habitat serta mempersempit ruang jelajah satwa.
Jufriadi berharap orangutan tersebut segera ditangani dan dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Menurutnya, penanganan diperlukan bukan hanya untuk mencegah satwa tertabrak kendaraan, tetapi juga untuk memastikan orangutan dapat kembali memperoleh habitat dan sumber makanan yang aman.
Kemunculan orangutan di sekitar jalan umum di Kutai Timur disebut bukan merupakan kejadian pertama. Keberadaan satwa liar di dekat kawasan aktivitas manusia dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko terjadinya konflik antara satwa dan manusia. Warga pun berharap aparat serta instansi terkait segera turun tangan untuk memastikan kondisi orangutan, terutama di tengah ancaman karhutla yang dapat mengganggu habitat dan sumber pakan satwa liar.(lam/kumparan)





Komentar