Beranda / Peristiwa / Dituduh Mencuri Sabun, Siswa Sekolah Rakyat di Pati  Dikeroyok Belasan Teman

Dituduh Mencuri Sabun, Siswa Sekolah Rakyat di Pati  Dikeroyok Belasan Teman

PROBATAM.CO, Jakarta – Seorang siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, berinisial D, diduga menjadi korban pengeroyokan oleh belasan temannya setelah dituduh mencuri sabun. Akibat peristiwa tersebut, D mengalami sejumlah luka, termasuk satu gigi copot dan satu gigi patah. Saat ini, ia tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Keluarga Sehat (KSH).

D menceritakan, penganiayaan itu terjadi pada Selasa (29/9). Saat itu, ia hendak mengambil seragam Pakaian Dinas Lapangan (PDL) di kamar setelah selesai makan. Namun, dalam perjalanan, seorang temannya tiba-tiba menuduhnya mengambil sabun.

“Awalnya habis makan, habis itu, kan, ke kamar, ngambil (seragam) PDL. Tiba-tiba itu ditanya ‘Kuwe njipuk sabunku? (Kamu ngambil sabunku?).’ Terus aku bilang ‘enggak.’ Tiba-tiba dari belakang ada yang mukul, nggak tahu siapa yang mukul,” ungkap D saat ditemui di RS KSH, Jumat (9/10).

D mengaku tidak mengetahui identitas para siswa yang memukulnya. Ketika bagian tengkuknya terkena pukulan, pandangannya mendadak gelap. Meski demikian, ia memperkirakan lebih dari 10 orang terlibat dalam kejadian tersebut. Ia juga mengaku menerima pukulan di bagian kepala.

“Diserang kepala semua. Nggak tahu, banyak (pelakunya). Kira-kira 10 orang lebih,” bebernya.

Kerusuhan di Lapas Merauke, Narapidana Mengamuk hingga Bakar Kantor Administrasi

Menurut D, penganiayaan kembali terjadi setelah waktu Isya. Para siswa yang diduga terlibat merupakan teman satu angkatan dengannya di kelas X.

“Yang di kamarku sendiri itu cuma antara 15-20 menit, kalau yang di tempat lain itu lama,” kata D.

Akibat kejadian tersebut, satu gigi D copot dan satu lainnya patah. Selain itu, ia mengalami lebam di kedua bahu, memar dan benjolan di kepala, serta pusing.

“Kalau pingsan enggak. Gigi sampai berdarah, sama kepala, sama ini (nunjuk bahu). Gigi copot satu, yang patah satu,” ungkapnya.

D menyatakan tidak pernah memiliki masalah dengan siswa-siswa yang diduga menganiayanya. Ia juga mengaku tidak mengetahui adanya kelompok atau geng di sekolah tersebut.

Putin Turun Tangan, Bantu Upayakan Pengakhiran Perang AS-Iran

“Nggak ada. Nggak pernah ngomongan (ngobrol). (Soal gang) nggak tahu. Nggak pernah ngumpul gitu-gitu,” ujar D.

Korban Sempat Mendapat Perawatan di Sekolah

Usai kejadian, D mengaku langsung melaporkan penganiayaan yang dialaminya kepada guru. Ia mengatakan guru tersebut berjanji akan menindaklanjuti laporannya. Sebelum dibawa ke RSUD RAA Soewondo Pati pada Kamis (30/9), D sempat dirawat di ruang pengawas sekolah.

“Sudah ngadu ke guru, jawabnya ‘besok akan ditangani.’ Terus dirawat di ruangan pengawas dulu, baru besoknya (ke rumah sakit),” kata D.

D juga mengungkapkan bahwa salah satu guru diduga memintanya menyebut terjatuh dari tangga apabila ditanya mengenai penyebab luka yang dialaminya. Menurut D, alasan tersebut disebut dapat digunakan untuk mengajukan pembiayaan melalui BPJS Kesehatan.

Anak Krakatau Berstatus Siaga, BPBD Lampung Pastikan Belum Ada Dampak Langsung Abu Vulkanik

“Itu besoknya mau dibawa ke RS. (Kata guru) kalau ditanya, bilang aja jatuh dari tangga,” beber D.

Setelah menjalani perawatan di RSUD RAA Soewondo dan melanjutkan rawat jalan di rumah, D masih merasakan nyeri di sejumlah bagian tubuh serta sesak napas. Kondisi tersebut membuat orang tuanya kembali membawanya ke rumah sakit, kali ini ke RS KSH, pada Rabu (7/10).

“Dirawat di sini (KSH) baru Rabu. Sekarang masih pada nyeri, kepala pusing,” ujar D.

Sekolah Dalami Keterlibatan Siswa

Wakil Kepala Kesiswaan Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 di Kabupaten Pati, Fachrudin Dwi Saputro, mengatakan pihak sekolah telah mengetahui kejadian tersebut setelah menerima laporan dari siswa.

Menurut Fachrudin, wali yang bertugas kemudian mendatangi lokasi dan mendapati insiden tersebut sudah dilerai oleh siswa lainnya.

“Kami sedang mendalami bersama tim guru bersama wali asuh dan wali asrama. Apa pun alasan latar belakangnya, kami tidak membenarkan adanya tindak kekerasan tersebut,” katanya.

Fachrudin menjelaskan, pihak sekolah masih melakukan pendalaman untuk memastikan jumlah siswa yang terlibat serta peran masing-masing dalam kejadian tersebut. Berdasarkan informasi awal yang diterima, terdapat siswa yang berusaha melerai, sementara sebagian lainnya hanya berada di lokasi saat insiden berlangsung.

“Jadi kami belum memastikan jumlahnya secara pasti,” bebernya.(lam/kumparan)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement