PROBATAM.CO, Jakarta – Danantara Indonesia berencana mengalihkan kepemilikan lebih dari 100 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepada pihak swasta. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi sekaligus produktivitas aset milik negara.
Chief of Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa pengelolaan BUMN ke depan tidak hanya bertumpu pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Danantara. Keterlibatan sektor swasta akan diperluas, termasuk dalam pelaksanaan berbagai proyek.
“Kita akan lebih banyak itu melakukan kerja sama pemerintah dan badan usaha dalam mengeksekusi proyek-proyek ke depan. Bahkan termasuk infrastruktur bisa dikembangkan dengan KPBU model. Jadi intinya bahwa ini juga kita sudah dalam track yang tepat,” ujar Dony dalam acara 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Kamis (8/10).
Menurut Dony, Danantara sejauh ini telah menjalin banyak kerja sama dengan pihak swasta. Bentuk kerja sama tersebut mencakup investasi langsung dalam proyek maupun penyertaan ekuitas berupa modal dan bentuk lainnya.
Ia mengatakan, upaya memperbesar peran swasta juga dilakukan dengan mengurangi keterlibatan BUMN di sektor-sektor yang dinilai lebih tepat dikelola oleh swasta. Salah satunya adalah bisnis perhotelan yang telah banyak dijalankan oleh pelaku usaha swasta.
“Karena itu kita memotong banyak BUMN kita yang seharusnya kita tidak perlu masuk di situ, itu swasta. Termasuk institusi Bapak Presiden kalau perlu hotel itu dijual semua, itu bukan ngapain pemerintah harus masuk di hotel, kan itu swasta banyak ya,” tutur Dony.
Dalam proses tersebut, Danantara telah melakukan divestasi terhadap lebih dari 100 perusahaan BUMN dengan memberikan kepemilikannya kepada pihak swasta.
“Ini kita satu-satu kita lepas dan banyak divestasi yang sudah kita lakukan antara perusahaan BUMN itu lebih dari 100 yang sudah kita divestasikan, kita berikan kepada swasta,” ungkapnya.
Dony menjelaskan, kebijakan ini bertujuan agar BUMN dapat lebih fokus menjalankan bisnis inti atau core business. Sementara perusahaan atau sektor yang tidak termasuk dalam bisnis utama BUMN akan dialihkan kepada pihak swasta yang dinilai lebih mampu mengelolanya.
“Dalam transformasi BUMN ini sudah lebih dari 100 perusahaan BUMN yang non-core kita lepas kepada swasta. Bahwa mungkin swasta akan lebih bagus mengelola itu daripada BUMN. BUMN akan masuk ke core kompetensinya yang memang besar-besar, inilah yang menjadi catatan,” tandas Dony.
Sebelumnya, CEO Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, menyampaikan bahwa penyederhanaan jumlah BUMN dilakukan melalui program streamlining atau merger. Sebagian besar aset yang ditutup merupakan entitas yang sudah tidak aktif atau dormant.
“Pemangkasan sekarang sudah di 354. Aset-aset yang kita tutup ini pertama memang kebanyakan memang sudah dormant istilahnya. Jadi entitasnya masih ada, tapi sudah tidak berjalan. Kemudian ada yang kita lakukan merger,” kata Rosan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/10).
Rosan memberikan contoh penggabungan enam BUMN yang bergerak di bidang manajemen aset menjadi satu perusahaan melalui merger secara horizontal. Penggabungan juga dilakukan terhadap 137 hotel dan 75 rumah sakit milik negara yang masing-masing disatukan menjadi satu perusahaan.
Kebijakan tersebut dilakukan karena sejumlah perusahaan BUMN terus mengalami kerugian. Dari total 1.074 BUMN, hanya 15 perusahaan yang memberikan kontribusi sebesar 97% terhadap dividen bagi kas negara.(lam/kumparan)





Komentar