PROBATAM.CO, Batam – Pemadaman listrik meluas yang melanda Batam-Bintan pada 12 Oktober 2026 tidak hanya dipicu gangguan pada satu titik jaringan. Gangguan di Gardu Induk Sungai Harapan merambat ke sistem transmisi utama bertegangan 150 kilovolt (kV), memicu lepasnya pasokan daya dari sejumlah pembangkit hingga hampir seluruh sistem kelistrikan Batam-Bintan padam.
Direktur Utama PLN Batam, Kwin Fo, menjelaskan bahwa gangguan tersebut tidak berhasil diisolasi oleh sistem proteksi sebagaimana mestinya. Akibatnya, gangguan yang semula terjadi di kawasan gardu induk berdampak lebih luas terhadap kestabilan sistem kelistrikan.
Penjelasan itu disampaikan Kwin Fo dalam konferensi pers di Kantor PLN Batam, Batam Center, Minggu (18/10/2026) sore.
Dalam kondisi normal, perangkat proteksi dan pemutus sirkuit berfungsi memisahkan bagian jaringan yang mengalami gangguan agar tidak merembet ke sistem utama. Namun, dalam kejadian tersebut, gangguan justru menjalar ke jaringan transmisi 150 kV.
Dampaknya dirasakan pembangkit lain, termasuk Pembangkit Listrik Tanjung Uncang yang disebut kehilangan sekitar 220 megawatt (MW) daya dari sistem.
Hilangnya pasokan daya dalam jumlah besar membuat pembangkit lainnya tidak mampu sepenuhnya menutup kekurangan tersebut. Kondisi ini kemudian memicu pelepasan pembangkit secara bertahap.
Kwin Fo menyebut, sekitar pukul 06.37 WIB, hampir seluruh pembangkit telah terlepas dari sistem utama kelistrikan Batam-Bintan. Situasi itulah yang menyebabkan pemadaman meluas.
Setelah gangguan terjadi, PLN Batam langsung melakukan penelusuran di sejumlah titik, termasuk jaringan transmisi. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan tidak terdapat kerusakan lain pada saluran maupun menara transmisi.
Setelah sumber gangguan teridentifikasi di kawasan Gardu Induk Sungai Harapan, PLN melakukan lokalisasi terhadap peralatan terdampak sebelum memulai pemulihan sistem.
Proses pemulihan mulai dilakukan sekitar pukul 08.30 WIB. Tahap awal difokuskan pada pembangunan kembali jaringan distribusi tegangan menengah 20 kV, kemudian dilanjutkan dengan pemulihan jaringan transmisi 150 kV secara bertahap.
Pemulihan tidak bisa dilakukan sekaligus. PLN harus menjalankan tahapan pengisian tegangan pada saluran transmisi atau line charging, disertai pemeriksaan untuk memastikan setiap saluran aman menerima tegangan sebelum kembali terhubung dengan bagian sistem lainnya.
Langkah tersebut diperlukan untuk mencegah gangguan lanjutan ketika sistem kelistrikan mulai dioperasikan kembali.
Kwin Fo mengatakan, setelah rangkaian pemeriksaan dan uji coba dilakukan, peralatan terkait sistem kelistrikan di Batam dinyatakan berfungsi dengan baik berdasarkan pengujian yang dilakukan bersama pihak terkait.
Meski demikian, hasil pengujian tersebut belum menjawab penyebab awal gangguan yang berujung pada blackout. PLN Batam masih menunggu hasil penyelidikan aparat kepolisian untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi di Gardu Induk Sungai Harapan.
“Setelah kejadian kami langsung bekerja tanpa henti, sehingga baru hari ini bisa menjelaskan kepada teman-teman,” ujar Kwin Fo.
Ia menegaskan, PLN Batam menyerahkan pengungkapan penyebab kejadian kepada Polda Kepri dan Bareskrim Polri.
“Mari kita tunggu bersama hasil penyelidikan Polda dan Bareskrim Polri,” katanya.
Pemadaman tersebut menjadi perhatian karena gangguan pada satu titik jaringan dapat berkembang menjadi gangguan sistemik ketika tidak terisolasi sebagaimana mestinya. Karena itu, hasil penyelidikan nantinya diharapkan tidak hanya menjelaskan pemicu awal blackout, tetapi juga mengungkap mengapa gangguan tersebut dapat merambat hingga melumpuhkan hampir seluruh sistem kelistrikan Batam-Bintan.
(Ina)





Komentar