PROBATAM.CO, Batam — Batam Travel Mart VII 2026 bertempat di Mega Mall Batam Centre, Kamis (15/10/2026) resmi dibuka oleh Kadispar Propinsi Kepri dan Kadisbudpar Kota Batam,.
Kegiatan yang berlangsung pada 15–18 Oktober 2026 ini menjadi salah satu upaya memperluas promosi destinasi wisata Kepulauan Riau sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri pariwisata.
Mengusung tema “Bringing Malay Heritage of the Riau Islands to the World”, kegiatan ini menjadi wadah promosi potensi pariwisata Batam dan Kepulauan Riau kepada pasar domestik maupun mancanegara.
Rangkaian kegiatan Batam Travel Mart VII 2026 juga dilaksanakan Table Top di Aston Hotel pada 18–20 Oktober 2026, dengan menyasar wisatawan mancanegara serta agen perjalanan wisata.
Ketua DPD ASITA Kepri, Eva Betty Siahaan, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah hadir serta mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Ia menjelaskan, ASITA Kepri Batam Travel Mart VII 2026 diikuti sekitar 16 stan yang menjadi ruang promosi bagi para pelaku industri pariwisata untuk memperkenalkan produk, paket perjalanan, dan berbagai potensi destinasi unggulan Kepulauan Riau.
Menurutnya, ASITA Kepri tetap optimistis bahwa promosi yang dilakukan secara konsisten dan dengan pendekatan positif dapat meningkatkan daya tarik Batam dan Kepulauan Riau di mata wisatawan.
“Terima kasih kepada Bapak dan Ibu yang telah hadir dan mendukung kegiatan ini. Kami di ASITA Kepri selalu optimistis untuk terus mempromosikan potensi pariwisata Kepulauan Riau, khususnya Kota Batam, agar semakin dikenal dan diminati wisatawan,” ujarnya.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau, Hasan, menyampaikan apresiasi kepada ASITA Kepri atas konsistensinya dalam menyelenggarakan kegiatan promosi pariwisata yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Menurutnya, pengembangan pariwisata tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, tetapi membutuhkan kerja sama yang kuat dengan asosiasi, pelaku usaha perjalanan, pengelola destinasi, serta seluruh pihak yang terlibat dalam pelayanan wisatawan.
Ia menegaskan, fondasi utama dalam membangun pariwisata yang berkualitas terletak pada kesiapan seluruh pelaku industri dalam memberikan pelayanan terbaik, menjaga keamanan dan kenyamanan, serta menyampaikan informasi yang positif dan akurat mengenai destinasi wisata.
“Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada ASITA Kepri yang terus mengambil bagian dalam mempromosikan pariwisata daerah. Upaya ini perlu kita dukung bersama karena kemajuan pariwisata membutuhkan sinergi dan komitmen seluruh pihak,” ujarnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, mengajak seluruh pelaku industri pariwisata di Batam dan Kepulauan Riau untuk bersama-sama membangun narasi positif mengenai potensi daerah.
Menurutnya, promosi pariwisata tidak cukup hanya dengan memperkenalkan destinasi, tetapi juga perlu membangun keyakinan wisatawan bahwa Batam dan Kepulauan Riau merupakan pilihan yang menarik untuk dikunjungi, baik untuk berlibur, melakukan perjalanan bisnis, maupun mengikuti berbagai kegiatan berskala nasional dan internasional.
Ia menegaskan, Pemerintah Kota Batam mendukung penyelenggaraan kegiatan seperti Batam Travel Mart karena sejalan dengan upaya pengembangan sektor Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) atau pertemuan, perjalanan insentif, konvensi, dan pameran.
Pengembangan MICE juga sejalan dengan program prioritas Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra, khususnya program prioritas ke-15 mengenai peningkatan investasi dan destinasi MICE.
“Sebagai pelaku pariwisata di Kepulauan Riau, mari kita bersama-sama membangun narasi yang positif dan menarik agar wisatawan domestik maupun mancanegara semakin tertarik berkunjung ke Batam dan daerah lainnya di Kepri. Pemerintah Kota Batam sangat mendukung kegiatan MICE seperti ini karena memiliki peluang besar untuk mendorong perkembangan pariwisata sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi daerah,” kata Ardiwinata.
Ia menjelaskan, dalam pengembangan MICE, hal yang perlu menjadi perhatian bukan hanya kegiatan utama seperti pertemuan atau pameran, melainkan juga aktivitas sebelum dan sesudah acara berlangsung.
Menurutnya, momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan destinasi wisata, pusat kuliner, pusat perbelanjaan, produk ekonomi kreatif, serta berbagai pengalaman wisata yang dimiliki Batam.
Dengan demikian, peserta kegiatan tidak hanya datang untuk mengikuti agenda utama, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menikmati destinasi dan membelanjakan uangnya di daerah tujuan.
“Dalam kegiatan MICE, yang perlu kita perhatikan bukan hanya meeting-nya, tetapi juga aktivitas before dan after-nya. Sebelum dan sesudah kegiatan, bagaimana kita mengajak peserta mengenal destinasi, menikmati kuliner, berbelanja, dan merasakan pengalaman wisata di Batam. Di situlah peluang besar yang harus kita manfaatkan bersama,” jelasnya.
Ardiwinata juga memaparkan tiga fungsi pemerintah yang dapat mendukung penyelenggaraan kegiatan seperti Batam Travel Mart, yakni administrasi, regulasi, dan katalisasi.
Fungsi administrasi berkaitan dengan penyelenggaraan pelayanan pemerintahan dan fasilitasi yang diperlukan agar kegiatan dapat terlaksana dengan tertib dan lancar.
Fungsi regulasi berkaitan dengan penyusunan serta penerapan kebijakan yang memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan mendukung iklim pariwisata yang kondusif.
Sementara itu, fungsi katalisasi berarti pemerintah berperan sebagai penggerak yang mempertemukan berbagai pihak, membuka peluang kolaborasi, dan mendorong lahirnya inisiatif baru untuk mengembangkan sektor pariwisata.
Dalam konteks Batam Travel Mart, ketiga fungsi tersebut diharapkan dapat berjalan beriringan untuk mendukung pelaku industri memperluas pasar, memperkuat jaringan bisnis, dan meningkatkan daya saing destinasi.

“Pemerintah memiliki tiga fungsi, yaitu administrasi, regulasi, dan katalisasi. Melalui administrasi, pemerintah memberikan pelayanan dan fasilitasi. Melalui regulasi, pemerintah menciptakan kepastian dan iklim usaha yang kondusif. Sementara melalui katalisasi, pemerintah menjadi penggerak yang mempertemukan para pemangku kepentingan agar peluang kerja sama dapat berkembang. Namun, keberhasilan pariwisata tetap membutuhkan peran aktif seluruh pelaku industri,” ungkapnya.
Rangkaian pembukaan ASITA Kepri Batam Travel Mart VII 2026 kemudian ditandai dengan pemukulan kompang oleh para pejabat yang hadir bersama perwakilan pelaku industri pariwisata.
Prosesi tersebut menjadi simbol dimulainya kegiatan promosi pariwisata yang diharapkan dapat memperkuat kerja sama antarpemangku kepentingan sekaligus membuka peluang bisnis baru bagi industri perjalanan wisata di Kepulauan Riau.
Acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama sebagai bentuk kebersamaan dan komitmen untuk terus mendorong pengembangan sektor pariwisata daerah.
Melalui penyelenggaraan ASITA Kepri Batam Travel Mart VII 2026, diharapkan promosi destinasi Batam dan Kepulauan Riau semakin luas, hubungan bisnis antarpelaku industri semakin kuat, serta semakin banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang tertarik menjadikan Kepulauan Riau sebagai tujuan perjalanan mereka. (*/hel)





Komentar