Beranda / Ekonomi / Bank Indonesia Diprediksi Kembali Naikkan Suku Bunga Acuan

Bank Indonesia Diprediksi Kembali Naikkan Suku Bunga Acuan

PROBATAM.CO, Batam – Ekonom memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang masih tinggi. Bank sentral menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 21-22 Juli 2026.

Sebelumnya, dalam RDG 17-18 Juni 2026, BI telah menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen. Pada saat yang sama, suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,75 persen dan Lending Facility menjadi 6,50 persen.

Kepala Ekonom Bank BCA, David Sumual, memproyeksikan BI Rate akan kembali naik 25 bps seiring meningkatnya ekspektasi inflasi ke depan, terutama akibat kenaikan inflasi pangan sebagai dampak dari fenomena El Nino.

“Fed rate juga diekspektasikan naik setidaknya 25 bps di semester II 2026,” kata David kepada kumparan, dikutip pada Rabu (22/7).

David menilai BI Rate saat ini dinilai masih tertinggal dibandingkan indikator suku bunga lain, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang sudah berada pada level lebih tinggi, serta INDONIA yang konsisten berada di atas 6 persen dalam dua pekan terakhir.

Deru Mesin Molen Terus Bergemuruh, Karji Pastikan Adukan Material Bikin Jalan Tahan Lama

Sementara itu, Ekonom LPEM Universitas Indonesia, Teuku Riefky, memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan pada RDG kali ini. Ia menilai ruang pengetatan moneter tambahan semakin terbatas karena inflasi saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor sisi penawaran.

“Mengingat tekanan inflasi sebagian besar masih didorong oleh sisi penawaran dan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut mungkin memberikan dukungan yang semakin berkurang terhadap rupiah sekaligus membebani aktivitas domestik, kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate pada level 5,75 persen pada RDG mendatang,” ujar Teuku.

Teuku menuturkan BI telah menaikkan suku bunga kebijakan secara kumulatif sebesar 100 bps sejak Mei 2026 menjadi 5,75 persen. Kenaikan tersebut dilakukan bersamaan dengan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah.

Inflasi Indonesia tercatat meningkat menjadi 3,34 persen secara tahunan atau year on year (yoy) pada Juni 2026. Kenaikan itu terutama dipicu oleh naiknya harga bahan bakar nonsubsidi dan tarif angkutan udara, bukan oleh tekanan permintaan yang meluas.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah melemah menjadi Rp18.060 per dolar AS pada pertengahan Juli 2026. Angka tersebut mencerminkan depresiasi sebesar 2,09 persen secara bulanan atau month to month (mtm) dan penurunan 7,29 persen sejak awal tahun atau year to date.

Patroli KRYD Polsek Bengkong Perkuat Kehadiran Polri dalam Menjaga Stabilitas Kamtibmas di Wilayah Hukum Bengkong

Sumber : KUMPARAN 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement