PROBATAM.CO, Jakarta – Kerusuhan melanda Prancis pada Sabtu (17/10). Sejumlah toko menjadi sasaran penjarahan, bentrokan antara masyarakat dan polisi terjadi di berbagai kota, sementara sejumlah bangunan, termasuk gedung bersejarah, dilanda kebakaran.
Rentetan kerusuhan tersebut bermula dari demonstrasi yang digelar untuk memprotes kenaikan harga kebutuhan pokok dan tingginya biaya hidup. Namun, aksi yang awalnya berupa unjuk rasa itu kemudian berkembang menjadi kekerasan, perusakan, hingga penjarahan.
Berikut rangkuman peristiwa yang terjadi di Prancis.
Gerakan Rompi Kuning Kembali Gelar Demonstrasi
Gerakan Yellow Vest atau Rompi Kuning di Prancis menyerukan aksi demonstrasi bertajuk “rompi kuning dan kaum muda” pada Sabtu (17/10). Gerakan tersebut sebelumnya dikenal melalui aksi jalanan delapan tahun lalu yang menentang rencana kenaikan pajak bahan bakar oleh pemerintahan Presiden Emmanuel Macron.
Kali ini, tingginya biaya hidup menjadi salah satu tuntutan utama para demonstran. Kondisi tersebut turut dipengaruhi oleh perang di Timur Tengah yang mendorong kenaikan inflasi di Eropa dan berbagai kawasan lainnya.
“Kami muak bekerja keras dengan upah yang hanya cukup untuk hidup dalam kemiskinan, sementara biaya sewa rumah terus naik,” ujar seorang guru bernama Regine Monfroid kepada AFP di Strasbourg, wilayah timur Prancis.
Selain persoalan ekonomi, para demonstran juga menyuarakan berbagai tuntutan politik. Di Paris, puluhan ribu orang berbaris melewati kawasan timur dan utara kota dalam salah satu aksi unjuk rasa berskala besar. Beberapa peserta meneriakkan slogan “Semua orang membenci polisi” dan “Macron, mundurlah”.
Kamil Alahyan, siswa sekolah menengah berusia 18 tahun, mengatakan dirinya turun ke jalan karena berbagai alasan. Di antaranya adalah pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung pada 2027, ketidakpercayaan terhadap politikus, serta semakin besarnya kekayaan yang dikumpulkan kelompok superkaya selama satu dekade terakhir.
Sebagian demonstran bahkan mengaitkan situasi politik saat ini dengan Revolusi Prancis pada 1789. Di Marseille, sejumlah orang meneriakkan “Inilah Revolusi—kita merebut Bastille!” ketika mereka menerobos masuk ke kantor wali kota.
Sementara itu, para demonstran di La Rochelle, Prancis barat, berbaris dengan membawa spanduk bertuliskan “Revolusi atau kematian”. Di Montpellier, wilayah selatan Prancis, sebuah spanduk biru berukuran besar dengan tulisan “Rakyat akan menang” dibentangkan di atas alun-alun pusat kota.
Ketua organisasi perwakilan siswa sekolah menengah LSU, Ryad Rani, menyatakan pemerintah seharusnya merasa khawatir terhadap kemarahan masyarakat Prancis.
“Pemerintah sedang gemetar dan memang sudah seharusnya gemetar, karena ketika rakyat Prancis marah, mereka tidak akan berhenti,” ujarnya kepada wartawan di Paris.
Aksi yang dipicu oleh persoalan biaya hidup tersebut kemudian berubah menjadi kekerasan dengan intensitas tinggi. Situasi semakin memburuk setelah berminggu-minggu berlangsungnya demonstrasi mahasiswa, ketika Prancis menghadapi pemilihan umum untuk menentukan pengganti Macron yang disebut akan berlangsung enam bulan kemudian.
Wali Kota Paris Emmanuel Gregoire mengatakan sejumlah jalan di ibu kota telah mengalami kerusakan parah. Di tengah situasi tersebut, kelompok pemuda bertopeng membakar mobil yang terparkir dan menjarah sejumlah toko.
Kementerian Dalam Negeri Prancis memperkirakan jumlah peserta demonstrasi mencapai 550.000 orang. Sementara itu, serikat pekerja CGT yang turut mengikuti aksi menyebut jumlah massa mencapai 800.000 orang.
Sebanyak 1.200 Orang Ditangkap
Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu mengecam kekerasan yang disebutnya memiliki “intensitas ekstrem”. Ia menyampaikan bahwa sebanyak 1.200 orang telah ditangkap, sedangkan 150 anggota kepolisian mengalami luka-luka.
“Merupakan sebuah keajaiban jumlah korban tidak lebih banyak,” kata Lecornu.
Bentrokan terjadi saat demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup berlangsung di Paris dan sejumlah kota lainnya. Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa yang melemparkan benda-benda ke arah petugas serta menyalakan kembang api.
Insiden serius juga terjadi di Saint-Etienne, Prancis selatan. Seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun kehilangan tangan kanannya akibat ledakan granat pengendali massa.
Penjarahan Terjadi di Sejumlah Kota
Selama dan setelah demonstrasi, kelompok-kelompok pemuda terlihat berkeliaran di jalanan. Mereka terlibat bentrokan dengan polisi, membakar berbagai benda, serta menyerang toko-toko yang pintunya tertutup untuk menerobos masuk dan mengambil barang-barang yang tersedia di dalamnya.
Penjarahan dilaporkan terjadi di puluhan toko yang tersebar di Paris, Marseille, Nice, Nantes, Bordeaux, Limoges, Lille, Toulouse, dan Strasbourg.
Berbagai jenis usaha menjadi sasaran, mulai dari supermarket, apotek, butik mewah, toko pakaian, toko optik, gerai kosmetik, hingga toko elektronik konsumen.
Jurnalis AFP di Paris menyaksikan kelompok-kelompok yang terdiri dari sekitar enam pemuda menyerang toko secara terorganisasi. Mereka menggunakan masker dan sarung tangan, lalu memutus sambungan kamera pengawas sebelum memecahkan kaca untuk masuk ke dalam toko.
Aksi penjarahan tersebut memperparah kerusakan dan vandalisme yang telah terjadi sepanjang hari. Sejumlah kantor pemerintahan daerah, termasuk balai kota, juga menjadi sasaran penyerangan.
Gedung Bersejarah di Limoges Terbakar
Kerusakan paling parah terjadi pada Balai Kota Limoges yang telah berdiri selama lebih dari 140 tahun. Bangunan tersebut sebagian besar hancur akibat kebakaran yang dipicu oleh demonstran bertopeng yang menerobos masuk, menurut pejabat tertinggi di wilayah itu.
Selain di Limoges, dua balai kota lainnya yang berada di Marseille dan Lille turut diterobos dan dirusak.
Di Bordeaux, sebuah kompleks kepolisian mengalami kerusakan. Sementara itu, para demonstran di Lyon membakar kantor pariwisata.
Beragam Tanggapan dari Politikus
Kerusuhan yang melanda Prancis turut menarik perhatian media internasional dan memunculkan berbagai tanggapan politik. Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyalahkan imigrasi sebagai faktor penyebab kerusuhan tersebut.
Melalui unggahan di platform X, Vance menuduh kelompok liberal di negara-negara Barat telah membawa masyarakat dari negara-negara berkembang ke Prancis dan negara lainnya atas nama keberagaman dan kasih sayang. Ia juga mengkritik pengabaian terhadap persoalan asimilasi dan kesesuaian sosial.
Presiden Emmanuel Macron menegaskan bahwa pelaku perusakan dan penjarahan akan menghadapi proses hukum.
“Mereka yang melakukan vandalisme, menyerang kantor-kantor pemerintahan atau tempat usaha, maupun melakukan penjarahan—bahkan di balai kota kita sendiri—akan dituntut dan dihukum,” ujar Macron.
Di tengah situasi tersebut, para politikus oposisi yang bersaing untuk menggantikan Macron dalam pemilihan presiden pada April dan Mei mendatang turut memanfaatkan kekacauan yang terjadi.
Marine Le Pen, kandidat dari sayap kanan, mengecam tindakan para perusuh. Ia juga menuding Jean-Luc Melenchon, tokoh dari sayap kiri radikal yang menjadi pesaing politiknya, telah melegitimasi kekerasan.
Le Pen berjanji akan melindungi masyarakat Prancis dari kekerasan yang dilakukan kelompok sayap kiri ekstrem.
Sementara itu, Melenchon yang secara terbuka mendukung demonstrasi tersebut dan aksi protes mahasiswa sebelumnya, meminta para demonstran tidak melakukan penjarahan. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut bertentangan dengan cara-cara yang dianut kelompoknya.(lam/kumparan)





Komentar