PROBATAM.CO, Jakarta – Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi, mengingatkan masyarakat mengenai dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan mata. Paparan partikel asap dapat memicu iritasi yang ditandai dengan mata merah dan terasa perih.
Hal tersebut disampaikan Nadia dalam media briefing Hari Penglihatan Sedunia 2026 di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Selasa (13/10).
“Kalau karhutla, karena ada partikel-partikel asap yang pasti cukup besar, itu bisa juga pada orang-orang yang terkena matanya, ya, itu menimbulkan mata merah, mata perih,” kata Nadia.
Ia menjelaskan, paparan partikel asap secara terus-menerus berpotensi meningkatkan risiko infeksi pada mata. Oleh sebab itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak karhutla disarankan menggunakan kacamata untuk melindungi mata dari paparan asap dan partikel berukuran besar.
Nadia menambahkan, kacamata juga dapat membantu melindungi mata dari paparan sinar ultraviolet (UV). Namun, gangguan mata akibat karhutla umumnya lebih berkaitan dengan reaksi alergi atau iritasi yang ditimbulkan oleh partikel asap.
“Tapi kalau memang bisa menggunakan kacamata, karena misalnya kacamata cengdem tadi, ya, selain melindungi dari paparan ultra-violet (UV), juga pada kasus-kasus karhutla kalau terkena serpihan ataupun karena partikel-partikel besar, itu bisa melindungi mata,” terang Nadia.
Meski demikian, Nadia menyebut jumlah kasus gangguan mata akibat kabut asap relatif lebih sedikit dibandingkan dengan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan gangguan pernapasan lainnya, termasuk asma.
“Biasanya rata-rata ada, tapi kecil angkanya. Tidak sebesar orang yang terkena ISPA ataupun terkena alergi asma dan sebagainya,” ujarnya.
Bagi masyarakat yang mengalami iritasi mata akibat paparan asap, Nadia mengimbau agar tidak mengucek mata. Sebagai gantinya, mata dapat dibilas menggunakan air untuk membantu membersihkan partikel yang menyebabkan iritasi.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), Prof. dr. Budu, turut menjelaskan dampak paparan asap, debu, dan angin terhadap kesehatan mata. Menurutnya, paparan tersebut dapat menimbulkan iritasi, peradangan, hingga mata kering apabila berlangsung dalam waktu lama.
Budu menerangkan, iritasi yang berkelanjutan dapat memicu peradangan pada mata. Kondisi ini berpotensi mengganggu bagian mata yang berperan dalam produksi cairan dan lemak mata, sehingga menyebabkan mata kering atau dry eye.
“Kalau mata kita teriritasi, mudah terjadi peradangan mata. Kalau peradangan terjadi, maka bagian-bagian mata kita itu yang memproduksi cairan mata, lemak-lemak mata itu bisa terganggu. Akhirnya terjadi dry eye, mata kering,” kata Budu.
Ia juga mengingatkan bahwa iritasi mata yang berlangsung lama dapat memicu pterigium, yaitu pertumbuhan jaringan menyerupai selaput pada permukaan mata.
Menurut Budu, berbagai jenis asap, mulai dari asap dapur, asap kendaraan di jalanan, hingga asap kebakaran hutan, sama-sama berpotensi memengaruhi kesehatan mata. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk menjaga kesehatan mata sekaligus memperhatikan kondisi lingkungan dan kualitas udara.
“Terus terang, asap apa pun, apakah itu asap dapur, apakah itu asap yang ada di jalanan atau asap karena kebakaran hutan, itu semua memiliki dampak terhadap kesehatan mata. Oleh karena itu kita harus sayangi mata kita, sayangi lingkungan kita, dan sayangi udara kita juga,” ujar Budu.
Dokter Spesialis Mata Masih Terpusat di Jawa dan Bali
Selain risiko gangguan mata akibat kabut asap, pemerataan tenaga medis spesialis mata juga menjadi tantangan dalam pelayanan kesehatan di Indonesia.
Nadia menyebutkan, jumlah dokter spesialis mata di Indonesia saat ini sekitar 3.000 orang. Namun, sebagian besar tenaga medis tersebut masih terkonsentrasi di wilayah Jawa dan Bali, sehingga distribusinya belum merata.
“Jadi memang ada distribusi yang tidak merata. Jadi memang produksinya harus kita tingkatkan dua kali,” ungkap Nadia.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kemenkes berupaya meningkatkan jumlah dokter spesialis mata melalui pembukaan program pendidikan spesialis berbasis rumah sakit pendidikan, termasuk di Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung.
Melalui program ini, dokter umum dapat menjalani pendidikan spesialis mata melalui rumah sakit, tidak hanya melalui universitas. Nadia berharap langkah tersebut dapat mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis mata di berbagai daerah.
“Nah, itu diharapkan bisa mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis mata,” ujarnya.
Kemenkes juga menjalankan program penugasan khusus dokter ke daerah yang masih kekurangan tenaga medis. Selain itu, pemenuhan peralatan kesehatan mata dilakukan secara bertahap untuk mendukung pelayanan bagi masyarakat.
Nadia mencontohkan kondisi di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, tempat masyarakat dapat membutuhkan waktu perjalanan hingga 12 jam untuk mencapai fasilitas pelayanan kesehatan mata.
Menurutnya, keterbatasan dokter spesialis mata di daerah membuat pasien harus menempuh perjalanan jauh untuk memperoleh layanan, termasuk bagi mereka yang mengalami katarak atau gangguan penglihatan berat. Perjalanan ke Banjarmasin maupun Palangkaraya pun dapat menjadi kendala bagi sebagian pasien.
Karena itu, pemerintah berupaya menempatkan dokter spesialis mata di tingkat kabupaten/kota sekaligus melengkapi fasilitas kesehatan dengan peralatan medis yang dibutuhkan.
Nadia menyebutkan, upaya tersebut telah dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Palangkaraya yang kini memiliki tiga dokter spesialis mata.
“Makanya kemudian di kabupaten/kota itu kita lengkapi dan kita kemudian ada penugasan dokter mata di situ. Tadi kan disampaikan, Palangkaraya sekarang udah punya tiga ya, seperti itu,” kata Nadia.(lam/kumparan)





Komentar