PROBATAM.CO, Jakarta – Sebanyak 269 siswa di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati menyatakan kejadian tersebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) dan akan melakukan investigasi untuk mengetahui penyebabnya.
Plt Bupati Pati sekaligus Ketua Satgas Percepatan MBG Pati, Risma Ardhi Chandra, menyampaikan permohonan maaf kepada para orang tua siswa dan masyarakat Kabupaten Pati atas insiden tersebut.
Chandra mengatakan, seluruh biaya penanganan dan pengobatan para korban akan ditanggung oleh Pemkab Pati. Menurutnya, dalam kondisi darurat, pembiayaan penanganan dapat menggunakan belanja tidak terduga karena kejadian tersebut berkaitan dengan keselamatan para korban dan masuk dalam kategori KLB.
“Atas kejadian ini, sekali lagi kami memohon maaf kepada orang tua murid dan masyarakat Kabupaten Pati. Kami akan terus berupaya agar persoalan ini segera tertangani. Seluruh biaya pengobatan juga akan ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten Pati,” ujar Chandra dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).
Ia menegaskan bahwa penanganan terhadap seluruh siswa dan guru yang mengalami keluhan menjadi prioritas pemerintah daerah. Pemkab Pati juga memastikan kondisi para korban terus dipantau selama proses penanganan berlangsung.
“Prioritas kami saat ini adalah memastikan seluruh siswa dan guru yang mengalami keluhan mendapatkan penanganan serta memastikan kondisi mereka terus terpantau,” kata Chandra.
Penanganan kasus tersebut dilakukan Pemkab Pati dengan berkoordinasi secara langsung bersama Dinas Kesehatan dan sejumlah fasilitas kesehatan. Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan pihak sekolah serta SPPG dan Badan Gizi Nasional (BGN).
Chandra menyebut koordinasi dengan berbagai pihak terus dilakukan untuk memastikan proses penanganan berjalan dengan baik.
“Kami terus memimpin penanganan dengan melakukan koordinasi langsung bersama pihak-pihak terkait,” ujarnya.
Selain memastikan penanganan terhadap korban, Pemkab Pati juga melakukan pendataan serta sinkronisasi jumlah siswa yang terdampak. Pemerintah daerah turut mengawal investigasi untuk mengetahui penyebab kejadian berdasarkan hasil pemeriksaan resmi.
“Kami akan terus mengawal proses investigasi dan bersama pihak terkait melakukan evaluasi terhadap proses distribusi serta keamanan pangan, dengan tetap menunggu hasil investigasi resmi,” tegas Chandra.
Pemkab Pati juga berkoordinasi dengan kepala sekolah, perawat, dan direktur rumah sakit. Bahkan, tenaga kesehatan diterjunkan untuk mendatangi langsung rumah siswa yang menjadi korban, terutama bagi mereka yang masih mengalami keluhan kesehatan.
“Misalkan ada yang masih sakit, kita minta tenaga kesehatan untuk datang ke rumah siswa-siswa tadi,” ucap Chandra.
Untuk sementara, SPPG Gembong 1 yang mengelola program MBG telah ditutup. Pemkab Pati juga mengirimkan sampel makanan ke Laboratorium Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah untuk diperiksa. Hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan dapat diketahui dalam waktu satu hingga dua pekan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati hingga pukul 13.00 WIB, Kamis (10/9), tercatat 269 siswa dari tiga sekolah diduga mengalami keracunan. Mereka berasal dari SMPN 1 Gembong, MTsN 3 Pati, dan MTs Mambaul Ulum.
Dari total 269 korban tersebut, sebanyak 210 orang menjalani rawat jalan, sedangkan 59 lainnya harus menjalani rawat inap di sejumlah rumah sakit.
Adapun rincian korban yang menjalani rawat inap yakni 24 orang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) RAA Soewondo Pati, 13 orang di RS Mitra Bangsa, 20 orang di RS KSH, serta 2 orang di Fastabiq Sehat.





Komentar