PROBATAM.CO, Batam – Sekali lagi tampil tak terbendung di final, Spanyol membawa kendali permainan mereka ke level yang lebih tinggi untuk merebut gelar Piala Dunia FIFA kedua.
Empat tahun lalu, Argentina berhasil melewati berbagai rintangan dalam perjalanan menuju gelar juara, sebelum akhirnya mengalahkan Prancis 4-2 lewat adu penalti setelah bermain imbang 3-3 dalam final yang mendebarkan. Pada final tahun ini di New York New Jersey, La Albiceleste harus menyerahkan takhta kepada Spanyol, yang merebut gelar juara dengan mendominasi jalannya pertandingan dan menjaga kendali permainan sepanjang laga.
Spanyol menutup perjalanan mereka di Amerika Utara dengan penampilan yang menunjukkan kualitas teknik dan taktik luar biasa di partai final. Mereka mampu meredam serangan lawan dengan lebih baik dari sebelumnya. Setelah membungkam Prancis beserta lini serangnya yang menakutkan dalam kemenangan 2-0 pada semifinal, juara Eropa itu kemudian mengalihkan fokus kepada Lionel Messi dan kawan-kawan, yang menjadi korban terbaru dari laju tanpa henti La Roja.
Argentina selalu mencetak sedikitnya dua gol di setiap pertandingan sebelumnya, tetapi kali ini mereka tampil jauh di bawah biasanya. Pasukan Lionel Scaloni bahkan tidak mampu melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran sepanjang 120 menit pertandingan. Upaya mereka hanya datang pada babak tambahan dan tidak pernah benar-benar merepotkan Unai Simon di bawah mistar gawang Spanyol.
Spanyol vs Argentina | Final | Piala Dunia FIFA 2026 |
“Kami punya tim yang luar biasa,” kata bek kanan Pedro Porro dalam wawancara eksklusif bersama FIFA. “Kami tampil habis-habisan sejak menit pertama. Kami juga melakukannya sejak pertandingan pertama melawan Tanjung Verde, ketika kami menguasai bola dan menciptakan banyak peluang, hanya saja saat itu bola belum mau masuk.
”Dalam pertandingan dengan tekanan setinggi apa pun, Spanyol tidak pernah kehilangan arah maupun fokus. Mereka mengendalikan tempo permainan tanpa kehilangan ketenangan, seperti yang mereka tunjukkan saat menang 1-0 atas Portugal di Babak 16 Besar dan mengalahkan Belgia 2-1 di perempat final, ketika gol kemenangan baru tercipta setelah harus menunggu cukup lama. Selain mendominasi secara teknis, tim Spanyol tetap menunjukkan ketenangan luar biasa pada saat keraguan bisa saja mulai muncul.
“Kami tetap setia dengan gaya bermain kami, dan saya rasa itu terlihat jelas,” lanjut Porro.
Tim asuhan Luis de la Fuente sebenarnya telah meletakkan fondasi permainan mereka sejak menjuarai EURO 2024 di Jerman. Namun kali ini, gaya bermain Spanyol juga mengandalkan serangan balik cepat melalui dua pemain sayap yang memiliki kecepatan luar biasa, Lamine Yamal dan Nico Williams. Dua tahun lalu mereka mungkin bermain lebih langsung dan lebih terbuka menghadapi lawan, yang membuat mereka kebobolan empat gol dalam empat pertandingan fase gugur.
Namun di Amerika Utara, Spanyol tampil jauh lebih solid dengan hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen, yaitu gol yang dicetak Charles De Ketelaere dari Belgia. Catatan tersebut menjadi pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah turnamen.
Perubahan yang paling terasa dalam dua tahun terakhir tentu adalah semakin besarnya pengaruh Rodri, motor permainan tim sekaligus peraih adidas Golden Ball sebagai pemain terbaik turnamen. Sambil mengangkat Trofi Piala Dunia FIFA, sang maestro lini tengah menjelaskan kepada FIFA bagaimana Spanyol mampu mendominasi seluruh lawannya.
Menurut saya, kami adalah tim yang paling mampu menghadapi berbagai situasi dalam pertandingan,” ujarnya. “Menekan lawan, menguasai bola, melakukan serangan balik, situasi bola mati… Saya rasa, dalam setiap aspek permainan, Spanyol adalah tim yang paling mampu mengendalikan pertandingan.”
Saat Rodri meningkatkan tempo permainan, Spanyol pun ikut bermain lebih cepat. Ketika ia memilih memutus ritme lawan, seluruh tim mengikutinya dengan ketenangan luar biasa tanpa pernah kehilangan bentuk permainan. Namun, La Roja edisi 2026 tidak hanya puas mendominasi penguasaan bola. Mereka juga mampu menentukan bagaimana lawan harus bermain ketika menguasai bola.
Juara dunia yang baru dinobatkan itu mungkin tidak seterlihat spektakuler seperti dua tahun lalu, tetapi kali ini mereka menjadikan kendali permainan sebagai kekuatan terbesar mereka.
“Kami tahu kami tidak akan kebobolan banyak gol,” aku Porro. “Namun kami juga tahu bahwa kami memiliki kualitas untuk bersaing dengan siapa pun. Pada akhirnya, kami mendapatkan hadiah yang luar biasa.
”Empat tahun lalu, Argentina keluar sebagai juara setelah melewati berbagai badai di Qatar. Tahun ini, giliran Spanyol yang mengangkat trofi berkat kemampuan mereka menjaga ketenangan sepanjang turnamen. Di ajang yang sempat diprediksi akan didominasi tim-tim dengan lini serang paling tajam, pada akhirnya justru La Roja yang berhasil membuka jalan menuju puncak sepak bola dunia.(rzl)





Komentar