Ekspor Sawit Seret Bikin Tangki Penuh, Anggota DPR Usul Hal Ini. (Photo: detik.com)

Ekspor Sawit Seret Bikin Tangki Penuh, Anggota DPR Usul Hal Ini

PROBATAM.CO, Jakarta – Anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sawit dan belum pulihnya ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) membuat industri dan petani kelapa sawit kelimpungan. Salah satu persoalan yang dinilai memberatkan hal ini adalah pungutan ekspor CPO.

Besarnya pungutan ekspor CPO menjadi kendala para produsen sawit untuk mengekspor produknya. Sementara di sisi lain, tangki-tangki penyimpanan sawit kini penuh karena sawit tidak terserap dengan lancar.

Anggota Komisi IV DPR Bambang Purwanto menilai saat ini tarif pungutan ekspor CPO sangat tinggi, sedangkan harga komoditas tersebut di pasar internasional sedang berfluktuasi. Saat ini tarif pungutan ekspor mencapai 55 persen dari harga ekspor CPO.

“Karena pungutannya besar, eksportir kita tidak mampu bersaing di luar,” kata dia, Selasa (12/7/2022).

Selain berdampak pada industri, beban pungutan ekspor ini juga turut menekan para petani sawit. Di tengah amblasnya harga TBS sawit, petani saat ini sedang kelimpungan menjual hasil panennya karena produsen sendiri tengah mengalami over stock di tangki-tangki miliknya.

Sebagai gambaran, untuk periode II Januari 2022, harga TBS sawit umur 3 tahun dipatok Rp 2.471,25 persen kg dan untuk sawit umur 25 tahun Rp 2.953,19 per kg. Sementara saat ini harga TBS turun ke bawah Rp1.000 per kg. Per 26 Juni 2022, harga TBS di 10 provinsi wilayah anggota SPKS berkisar Rp 500-Rp 1.070 per kg.

“Mereka (petani) pada saat mengembangkan sawit, butuh dana besar, mereka mengagunkan rumah untuk pinjam ke bank. Saat sekarang mau bayar angsuran, tidak bisa. Itu berpotensi terjadi kemiskinan massal. Sehingga pemerintah harus memperhatikan itu,” tegas dia.

Oleh sebab itu, lanjut Bambang, dirinya meminta pemerintah untuk sementara menghilangkan pungutan ekspor CPO demi menyelamatkan nasib pabrik kelapa sawit dan para petani yang jumlahnya sangat besar.

“Dengan menghilangkan sementara pungutan ekspor, itu bisa menyelamatkan pabrik kelapa sawit dan petani sawit khususnya. Karena jumlah petani swadaya ini jumlahnya cukup besar. Kalau (pemerintah) tidak mengalah, itu pabrik kelapa sawit dan petani bisa bangkrut. Kalau semua bangkrut, itu artinya sumber minyak goreng bakal hilang,” jelasnya.

“Makanya harus setop dulu sementara, atau kalau memang masih perlu (dana pungutan ekspor) tarifnya diperkecil. Sehingga eksportir kita bisa bersaing. Kasian eksportir kita disetop tiba-tiba,” tutup Bambang.

Juru bicara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Kalimantan Timur Azmal Ridwan mengatakan, penyebab dari tangki yang penuh itu ialah pabrik kelapa sawit (PKS) kesulitan menjual CPO karena ekspor yang masih tersendat.

“Tiga hari sampai lima hari lagi kalau dibiarkan (tangki penyimpanan CPO) penuh. Itu masalah kita sekarang,” kata Azmal dalam keterangannya, Jumat (08/07/2022) lalu.

Pemicunya tak lain karena aktivitas ekspor sawit masih seret lantaran masih banyak hambatan seperti salah satunya adalah adanya beragam pungutan dan bea yang memberatkan aktivitas ekspor.(*)

Sumber: detik.com

Print Friendly, PDF & Email

BACA JUGA

Pengusaha Desak Penghapusan DMO-DPO Sawit Segera Terealisasi

Indra Helmi

Eksportir Sawit Bisa Dapat Tambahan Kuota Ekspor, tapi Ada Syaratnya

Indra Helmi

Jadi Saksi Kasus Suap Ekspor CPO, Mantan Mendag Lutfi Penuhi Panggilan Kejagung

Debi Ainan

Zulhas Bilang Tak Ada Mafia di Balik Mahal-Langka Minyak Goreng

Indra Helmi

Kejagung Periksa Tujuh Orang Saksi Terkait Kasus Korupsi Ekspor CPO

Indra Helmi

Ekspor CPO cs Akhirnya Dilarang, Ini Pernyataan Lengkap Jokowi

Indra Helmi