90% Makanannya Impor, Singapura Terancam Krisis. (Photo: detik.com)

90% Makanannya Impor, Singapura Terancam Krisis

PROBATAM.CO, Jakarta – Meski terlihat sebagai negara yang kaya, nyatanya Singapura masih menghadapi tantangan yang terus menerus terjadi pada masalah mendasar kehidupan masyarakatnya. Hal itu adalah ketahanan pangan.

Baru-baru ini masalah ketahanan pangan ini mendapatkan sorotan. Larangan ekspor ayam dari negara tetangganya, Malaysia menjadi masalah baru Singapura. Diketahui, Negeri Singa mengimpor 34% kebutuhan daging ayamnya dari negara tetangganya tersebut.

Sebagai negara kepulauan kecil, Singapura memang kekurangan sumber daya alam. Dilansir dari CNBC, Rabu (22/6/2022), untuk masalah kebutuhan pokok paling mendasar seperti makanan, mereka mengimpor lebih dari 90% kebutuhannya. Impor dilakukan dari 170 negara dan wilayah di dunia.

Belum lagi, saat ini Singapura pun sedang merasakan efek dari kenaikan inflasi makanan. Harga makanan naik 4,1% pada April dari tahun sebelumnya, naik dari 3,3% pada Maret.

Pemilik kios jajanan mulai merasa terjepit karena mereka berada di bawah tekanan untuk menjaga harga tetap terjangkau untuk masyarakat di sisi lain bahan-bahan makanan melonjak tinggi harganya.

Remus Seow, pemilik Fukudon, sebuah kios jajanan yang menjual rice bowl Jepang, adalah salah satu contohnya. Selama enam bulan terakhir, harga produk yang dia beli, seperti minyak goreng, telur, dan daging, naik antara 30% hingga 45%.

Seow baru-baru ini menaikkan harga makanannya untuk pertama kali sejak membuka kiosnya dua tahun lalu. Jika harga terus naik, 20% hingga 35% pelanggan mungkin tidak akan datang ke lapaknya lagi.

Otoritas Moneter Singapura mengatakan kenaikan harga pangan global diperkirakan akan terus berkontribusi terhadap inflasi pangan lokal setelah tahun 2022. Harga pangan global sudah mulai naik selama pandemi, namun perang di Ukraina telah memperburuk tekanan inflasi tersebut.

Bank Dunia telah melaporkan bahwa harga pangan diperkirakan akan naik sekitar 20% tahun ini sebelum mereda pada tahun 2023.

Paul Teng, ajun rekan senior di S. Rajaratnam School of International Studies menyatakan Singapura kurang memperhatikan sumber pasokan makanannya. Mereka terlalu meremehkan industri pertanian dan berpangku tangan pada produk pangan negara lain.

“Singapura telah meremehkan pertanian dan mengimpor makanan. Sekarang negara ini telah melakukan putaran balik, tetapi ini perlu waktu untuk melunasinya,” kata Teng.

Singapura sendiri saat ini secara teknis dan teknologi sedang mengembangkan industri pangannya. Namun dalam rangka mencapai tujuannya, masih ada dua masalah di tengah masyarakat harga dan sikap konsumen terhadap makanan jenis baru.

Teng mengatakan konsumen secara khusus membeli makanan alami dan mungkin tidak akan mau menerima makanan baru. Misalnya saja, seperti ayam yang ditanam di laboratorium dan sumber protein alternatif.(*)

Sumber: detik.com

Print Friendly, PDF & Email

BACA JUGA

Sri Lanka Bangkrut, Minta PNS WFH Demi Irit BBM

Sunandar

Analis: Krisis Sri Lanka Mirip Pola Fenomena Arab Spring

Sunandar